Selasa, 03 Februari 2026

Aksara Kelangkai

Aksara buatan adalah sistem tulisan yang diciptakan secara sadar oleh manusia dengan aturan eksplisit untuk tujuan tertentu, bukan hasil evolusi alami bahasa. Aksara buatan bisa menjadi sistem besar atau kecil; yang membedakan bukan niat pencipta, tapi sejauh mana masyarakat menggunakannya. Ada yang digunakan skala nasional, lokal maupun yang sebatas eksperimental.


Untuk huruf² yang aku bikin emang eksperimen huruf per huruf.Kenapa aku buat ini, karena Indonesia punya banyak aksara yang dipakai buat menulis bahasa daerah masing². Aku mikir "Kenapa harus pakai huruf Latin? Kenapa aku ngga bikin satu aksara pemersatu aksara² di Indonesia? Bukankah bahasa Indonesia itu juga bahasa pemersatu?".Dari situlah aku mulai giat mengerjakan projek aksara Kelangkai ini.


Jadi gini gesss 😆, gua bikin aksara di tahun 2018 yang lalu dan tahun ini gua tinjau ulang.Nama aksaranya aksara "Kelangkai" (e dibaca ĂȘ). Ini gua desain khusus buat nulis bahasa Indonesia, sebagai pengganti huruf Latin. Jadi lu nulis "Tailan" đŸ‡č🇭 pun ga bakal keliatan aneh kalo pake aksara gua ini đŸ˜čBerikut wujud aksaranya beserta aturan level dasar (level pemula) cara bacanya:




 (26/01/2026)
Kenalin gesss aksara buatan saya sendiri. Namanya Aksara Kelangkai đŸŒŸđŸ„žAksara ini dirancang khusus buat nulis bahasa Indonesia đŸ‡źđŸ‡©Berikut wujudnya, demo penggunaannya, dan fitur² khasnya:




·Author
Panduan lengkap penulisan:





·Author
Huruf tambahan: xa/xĂȘ

·Author
Kelangkai dari kata "langkai" yang artinya "ramping". Namanya ngegambarin bentuk hurufnya yang langsing² 😁Dari SD emang suka bikin huruf² đŸ€Ł Cuma pas tahun 2018, pas masih SMA, tiba² pengen aja bikin huruf yang bentuknya tipis² 😅

"Thailand" diubah ejaannya jadi "Tailan". "Switzerland" jadi "Swis".Kalo pake huruf Latin, jadi keliatan aneh ya walaupun udah sesuai kaidah bahasa Indonesia đŸ‡źđŸ‡©Coba kita tulis pake aksara Kelangkai đŸŒŸ Kira² jadi kaya gini keliatannya: 😁 


Pendapat AI 

📌 Apa itu Aksara Kelangkai

Aksara Kelangkai disebut oleh kreator unggahan di Threads sebagai:

“Aksara buatan sendiri yang dirancang khusus untuk menulis bahasa Indonesia.”

👉 Artinya ini bukan aksara tradisional Nusantara atau aksara klasik dunia seperti Jawa, Bali, Lontara, dsb., tetapi sistem tulisan baru hasil kreasi individu.


🧠 Aksara buatan vs aksara tradisional

✅ Aksara buatan

  • Dirancang sengaja untuk tujuan tertentu (mis. estetika, sistem baru)

  • Tidak memiliki sejarah panjang penggunaan masyarakat

  • Contoh terkenal lain yang besar: Hangul (dirancang oleh Raja Sejong)
    → ini akhirnya diterima luas oleh masyarakat Korea sejak abad ke-15.

Jenis seperti Aksara Kelangkai biasanya termasuk aksara buatan yang masih sangat sempit (komunitas kecil / pribadi) karena penciptanya belum menyusun sistem standar, Unicode, atau adopsi luas.


📝 Ciri umum yang mungkin dimiliki Aksara Kelangkai

Berdasarkan deskripsi kreator, kemungkinan besar aksara ini punya karakteristik berikut:
✔ dirancang khusus, tidak sejarah turun temurun
✔ fokus untuk Bahasa Indonesia
✔ bisa punya bentuk huruf, aturan bilabial/vokal sendiri
✔ masih baru / belum diakui secara formal oleh standar Unicode atau lembaga linguistik

Ini konsisten dengan definisi aksara buatan yang dimaksud—suatu sistem tanda grafis yang dirancang oleh individu atau kelompok, bukan berkembang dari tradisi sejarah.


🧠 Simpulan

📌 Aksara Kelangkai adalah aksara buatan modern, bukan aksara klasik dengan warisan sejarah.
📌 Ia baru diperkenalkan lewat media sosial dan masih sangat terbatas penggunaannya.
📌 Untuk menjadi aksara yang “berfungsi luas”, perlu pengembangan lebih lanjut (aturan, adopsi, dukungan teknis).

Kreatif banget yah.... 
Makin seru nih kalau dimasukin ke Omniglot...


Sumber: https://www.threads.com/@f.ssyi

Rabu, 07 Januari 2026

IBRINDO–IFI (Bagian 3)


NASKAH AKADEMIK

PENGEMBANGAN SISTEM PENULISAN IBRINDO-IFI


KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunia-Nya dokumen Naskah Akademik Pengembangan Sistem Penulisan Ibrindo-IFI ini dapat disusun dan diselesaikan dengan baik. Dokumen ini disusun sebagai hasil kajian akademik yang bertujuan memberikan landasan konseptual, teoretis, dan metodologis bagi pengembangan suatu sistem penulisan alternatif yang dirancang secara sadar, terstruktur, dan netral.

Penyusunan naskah akademik ini dilatarbelakangi oleh perkembangan kebutuhan pendidikan, penelitian, dan teknologi informasi yang semakin menuntut sistem penulisan dengan tingkat kejelasan fonetik yang tinggi, konsistensi ejaan, serta kesiapan untuk diproses secara digital. Dalam konteks tersebut, sistem penulisan tidak lagi dipahami semata-mata sebagai sarana ekspresi budaya, melainkan juga sebagai instrumen pendukung literasi ilmiah, pembelajaran modern, dan pengembangan teknologi bahasa.

Naskah akademik ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan, meniadakan, atau mereformasi sistem penulisan tradisional Nusantara, seperti Pegon, Jawi, dan Aksara Jawa, yang memiliki nilai historis, kultural, dan simbolik yang sangat tinggi. Sebaliknya, dokumen ini menempatkan sistem-sistem tersebut sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan dan dipahami dalam konteks historisnya masing-masing, sekaligus mengkaji keterbatasan strukturalnya apabila diposisikan sebagai dasar pengembangan sistem penulisan modern.

Melalui naskah akademik ini, sistem penulisan Ibrindo-IFI diperkenalkan sebagai sistem alternatif yang bersifat akademik dan eksperimental. Sistem ini dirancang untuk digunakan secara terbatas dan terukur dalam konteks pendidikan, penelitian, dan inovasi teknologi bahasa. Diharapkan dokumen ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan yang mendorong inovasi berbasis riset, tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian, pelestarian budaya, dan keberagaman sistem penulisan yang telah hidup di tengah masyarakat.

Jakarta, …………………

Tim Penyusun


RINGKASAN EKSEKUTIF / POLICY BRIEF

Indonesia memiliki kekayaan sistem penulisan tradisional yang berkembang dalam konteks sejarah, budaya, dan keilmuan masyarakat pendukungnya, antara lain Pegon, Jawi, dan Aksara Jawa. Sistem-sistem tersebut berperan penting dalam transmisi pengetahuan dan pembentukan identitas budaya, namun secara struktural memiliki keterbatasan apabila digunakan atau dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan modern yang menuntut konsistensi ejaan, presisi fonetik, dan kesiapan pemrosesan digital.

Naskah akademik ini memperkenalkan Ibrindo-IFI sebagai sistem penulisan alternatif yang dirancang secara sadar, terstruktur, dan netral secara linguistik maupun kultural. Sistem ini dikembangkan bukan sebagai pengganti sistem penulisan yang telah ada, melainkan sebagai sistem pendamping yang dapat dimanfaatkan secara terbatas dalam bidang pendidikan, penelitian, dan inovasi teknologi bahasa.

Rekomendasi utama dari kajian ini adalah memfasilitasi pemanfaatan Ibrindo-IFI secara terbatas melalui kegiatan riset, pengembangan bahan ajar, dan pilot project akademik, tanpa menetapkannya sebagai sistem penulisan resmi atau wajib. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan prinsip kehati-hatian dalam kebijakan publik, pelestarian warisan budaya, serta penguatan inovasi berbasis riset.


BAB I

LATAR BELAKANG

1.1 Konteks Umum

Nusantara memiliki beragam sistem penulisan tradisional yang berkembang seiring dengan dinamika sejarah, budaya, dan keilmuan masyarakat pendukungnya. Pegon, Jawi, dan Aksara Jawa merupakan contoh sistem penulisan yang memiliki peran penting dalam transmisi pengetahuan keagamaan, sastra klasik, serta administrasi tradisional. Keberadaan sistem-sistem ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah intelektual dan kebudayaan Indonesia.

Seiring dengan perkembangan zaman, kebutuhan terhadap sistem penulisan mengalami perluasan fungsi. Sistem penulisan tidak hanya digunakan untuk kepentingan budaya dan sastra, tetapi juga untuk pendidikan formal, dokumentasi ilmiah, serta pengembangan teknologi informasi. Kondisi ini menuntut adanya sistem penulisan yang memiliki struktur eksplisit, konsisten, dan mudah diproses secara digital.

1.2 Pegon dan Jawi

Pegon dan Jawi merupakan sistem penulisan hasil adaptasi aksara Arab yang berkembang dalam konteks religio-kultural tertentu. Secara struktural, kedua sistem ini tidak dirancang sebagai sistem fonetik murni. Penulisan vokal sering kali tidak ditampilkan secara eksplisit dan sangat bergantung pada konteks pembacaan serta tradisi keilmuan yang melingkupinya.

Dalam praktik kontemporer, terdapat variasi ejaan dan perbedaan konvensi penulisan Pegon dan Jawi antarwilayah maupun antarpraktisi. Kondisi ini menyebabkan satu bunyi dapat direpresentasikan dengan beberapa bentuk penulisan, dan sebaliknya satu bentuk penulisan dapat ditafsirkan menjadi lebih dari satu bunyi. Hal tersebut menyulitkan upaya standarisasi teknis, khususnya dalam pengembangan sistem transliterasi otomatis dan pengolahan teks digital.

1.3 Aksara Jawa

Aksara Jawa merupakan sistem penulisan berjenis abugida yang dirancang secara khusus untuk merepresentasikan bahasa Jawa. Sistem ini memiliki struktur yang kompleks, melibatkan aksara dasar, pasangan, sandhangan, serta berbagai aturan kontekstual yang dikenal sebagai paugeran.

Dalam perkembangan penggunaannya, terdapat beragam penafsiran dan penerapan paugeran Aksara Jawa, terutama dalam penulisan vokal, konsonan akhir, serta adaptasi kata serapan. Perbedaan tersebut tidak jarang menimbulkan perbedaan pandangan di kalangan praktisi dan pemerhati Aksara Jawa, sehingga hingga saat ini belum sepenuhnya terbentuk standar operasional tunggal yang diterima secara luas untuk seluruh konteks penggunaan.

1.4 Kebutuhan Sistem Penulisan Alternatif

Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan suatu sistem penulisan alternatif yang tidak berangkat dari modifikasi sistem penulisan warisan, melainkan dirancang sejak awal sebagai rekayasa linguistik yang terstruktur, netral, dan siap diuji secara akademik. Kebutuhan inilah yang melatarbelakangi pengembangan sistem penulisan Ibrindo-IFI.


BAB II

LANDASAN TEORETIS

2.1 Sistem Penulisan dalam Kajian Linguistik

Dalam kajian linguistik, sistem penulisan dipahami sebagai seperangkat simbol grafis yang digunakan untuk merepresentasikan unsur-unsur bahasa secara sistematis. Sistem penulisan dapat diklasifikasikan menjadi alfabet, abugida, silabis, dan logografis, masing-masing dengan karakteristik struktural dan fungsional yang berbeda.

2.2 Prinsip Representasi Fonetik

Prinsip representasi fonetik menekankan hubungan yang jelas antara bunyi bahasa (fonem) dan simbol grafis. Sistem penulisan yang memiliki kejelasan fonetik dinilai lebih mudah dipelajari, diajarkan, dan diproses secara digital, terutama dalam konteks pembelajaran modern dan teknologi bahasa.

2.3 Standarisasi dan Variasi

Standarisasi sistem penulisan merupakan proses penting untuk menjamin konsistensi penggunaan dalam ruang publik. Namun, sistem penulisan yang berkembang secara historis sering kali memiliki variasi praktik yang tinggi, sehingga menyulitkan penerapan standarisasi teknis.

2.4 Sistem Penulisan dan Teknologi Digital

Perkembangan teknologi informasi menuntut sistem penulisan yang kompatibel dengan pengkodean karakter, pencarian teks, dan pemrosesan otomatis. Sistem penulisan dengan aturan yang eksplisit dan terdokumentasi memiliki tingkat kesiapan digital yang lebih tinggi.


BAB III

METODOLOGI PERANCANGAN SISTEM

3.1 Pendekatan Perancangan

Perancangan sistem penulisan Ibrindo-IFI menggunakan pendekatan rekayasa linguistik terapan yang memadukan kajian teoretis linguistik dengan kebutuhan praktis pendidikan dan teknologi bahasa.

3.2 Prinsip Dasar Perancangan

Prinsip dasar yang digunakan meliputi kejelasan fonetik, konsistensi aturan, netralitas bahasa, kesederhanaan struktural, dan keterbukaan terhadap evaluasi ilmiah.

3.3 Tahapan Perancangan

Tahapan perancangan meliputi identifikasi kebutuhan, kajian komparatif, perumusan aturan dasar, uji keterbacaan, dan evaluasi kesiapan digital.


BAB IV

RUANG LINGKUP DAN BATASAN SISTEM

4.1 Ruang Lingkup

Ibrindo-IFI dirancang untuk digunakan secara terbatas dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan teknologi bahasa.

4.2 Batasan Sistem

Sistem ini tidak dimaksudkan sebagai aksara resmi negara atau daerah, tidak digunakan dalam administrasi pemerintahan, dan tidak menggantikan sistem penulisan yang telah berlaku.


BAB V

IMPLIKASI DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN

5.1 Implikasi Akademik

Pengembangan Ibrindo-IFI memberikan kontribusi terhadap penguatan kajian linguistik terapan dan rekayasa sistem penulisan.

5.2 Implikasi Pendidikan dan Teknologi

Sistem ini berpotensi menjadi media bantu pembelajaran fonetik dan objek uji dalam pengembangan teknologi bahasa.

5.3 Rekomendasi Kebijakan

Rekomendasi kebijakan menekankan fasilitasi riset terbatas, penyusunan pedoman teknis internal, dan evaluasi berkala berbasis hasil penelitian.


BAB VI

PENUTUP

Naskah akademik ini menegaskan bahwa pengembangan sistem penulisan alternatif yang berdiri mandiri, seperti Ibrindo-IFI, merupakan pendekatan yang relevan dan berhati-hati dalam menjawab kebutuhan modern. Pendekatan ini memungkinkan inovasi berbasis riset tanpa mengabaikan pelestarian sistem penulisan tradisional sebagai warisan budaya bangsa.


SELESAI 


#admin-blog

꧁ꊄꊝ꧀ꊩꦶꊀ꧀꧂