Tampilkan postingan dengan label kitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kitab. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Mei 2026

Taurat Lisan, Hadist dan Tipitaka


Mari kita bandingkan: 1) Taurat Lisan (Yudaisme Rabinik), 2) Hadis (Islam), dan 3) Tipitaka (Buddhisme). Dari tiga sisi: (1) proses transisi lisan → tulisan, (2) ketepatan transmisi, (3) konteks politik & sosial.

1️⃣ Taurat Lisan → Mishnah & Talmud (Yudaisme)

Apa itu?

Taurat Lisan dalam tradisi Rabinik kemudian dikodifikasi menjadi:

  • Mishnah (± 200 M)

  • Talmud Yerusalem

  • Talmud Babilonia

📜 Proses Transisi

  • Awalnya murni lisan (periode Bait Suci Kedua).

  • Setelah kehancuran Yerusalem (70 M), terjadi krisis identitas.

  • Kodifikasi besar dipimpin oleh Yehuda HaNasi.

  • Tulisan muncul karena kekhawatiran hilangnya tradisi akibat diaspora & penindasan Romawi.

🎯 Ketepatan Transmisi

  • Tidak memakai sistem sanad individual seperti hadis.

  • Mengandalkan rantai guru–murid kolektif.

  • Tradisi sering berbentuk perdebatan hukum (makhluknya memang plural).

  • Tidak mengklaim verbatim dari Musa; lebih sebagai “penafsiran otoritatif”.

Kesimpulan ketepatan: stabil dalam tradisi sekolah rabinik, tapi bukan transmisi literal kata demi kata.

🏛 Situasi Politik

  • Trauma nasional: kehancuran Bait Suci oleh Romawi.

  • Rabinik menggantikan sistem imam & korban.

  • Kodifikasi = strategi bertahan identitas tanpa negara.


2️⃣ Hadis → Kitab Hadis Kanonik (Islam)

Apa itu?

Perkataan & tindakan Nabi Muhammad yang dihimpun menjadi kitab seperti:

  • Sahih al-Bukhari

  • Sahih Muslim

Dikodifikasi abad ke-8–9 M.

📜 Proses Transisi

  • Awalnya hafalan & catatan pribadi.

  • Kodifikasi sistematis ± 200 tahun setelah wafat Nabi.

  • Muncul ilmu sanad & kritik perawi (jarh wa ta’dil).

Tokoh penting:

  • Muhammad al-Bukhari

🎯 Ketepatan Transmisi

  • Sistem sanad formal & rinci.

  • Verifikasi biografi perawi.

  • Namun:

    • Jarak waktu relatif panjang.

    • Terjadi konflik politik (Umayyah–Abbasiyah).

    • Produksi hadis palsu dalam konflik teologis & politik.

Kesimpulan ketepatan: sistem verifikasi paling eksplisit & ketat di antara tiga tradisi, tetapi lahir dalam konteks konflik sehingga juga menyaring tradisi yang sudah berkembang.

🏛 Situasi Politik

  • Perang saudara awal Islam.

  • Legitimasi kekuasaan (Umayyah vs Abbasiyah).

  • Hadis sering dipakai untuk legitimasi politik & teologi.


3️⃣ Tipitaka → Kanon Pali (Buddhisme Theravada)

Apa itu?

Kumpulan ajaran Buddha:

  • Tipitaka

Dibagi tiga: Vinaya, Sutta, Abhidhamma.

📜 Proses Transisi

  • Konsili pertama setelah wafat Buddha (tradisi menyebut ± 5 abad SM).

  • Dihafal kolektif oleh sangha.

  • Ditulis pertama kali di Sri Lanka abad 1 SM.

🎯 Ketepatan Transmisi

  • Sistem penghafalan kolektif sangat ketat.

  • Pola repetitif & formulaik membantu hafalan.

  • Tidak memakai sanad individual seperti hadis.

  • Ada variasi antar aliran (Theravada vs Mahayana).

Kesimpulan ketepatan: kuat dalam stabilitas oral kolektif, tapi bukan dokumentasi historis langsung.

🏛 Situasi Politik

  • Disokong raja seperti Ashoka

  • Penyebaran agama terkait patronase kerajaan.

  • Penulisan di Sri Lanka karena ancaman kelaparan & perang.


🔎 Perbandingan Ringkas

AspekTaurat LisanHadisTipitaka
Waktu tulis± 130–500 tahun± 200 tahun± 400 tahun
Model transmisisekolah rabiniksanad individualhafalan kolektif
Fokushukum & debatperkataan Nabiajaran & disiplin
Situasi politikpasca kehancuran negarakonflik kekhalifahanpatronase kerajaan
Klaim ketepatantradisi otoritatifkritik sanad ketatkonsensus sangha

📌 Analisis Netral

🔬 Dari sisi “ketepatan teknis”

  • Hadis paling eksplisit metodologinya.

  • Tipitaka paling stabil secara kolektif.

  • Taurat Lisan paling berbentuk evolusi interpretatif.

🏛 Dari sisi politik

  • Ketiganya lahir dalam krisis:

    • Yudaisme: kehilangan Bait Suci.

    • Islam: konflik suksesi & ekspansi kekaisaran.

    • Buddhisme: kebutuhan konsolidasi di bawah patronase kerajaan.

📖 Dari sisi jenis tradisi

  • Taurat Lisan → interpretatif & hukum.

  • Hadis → otoritas normatif personal.

  • Tipitaka → ajaran & disiplin monastik.


Secara analitis–sekuler (bukan dari klaim iman internal), dengan tiga kriteria berbeda: historisitas, teologisasi, dan kerentanan politisasi.


1️⃣ Mana yang paling “historis”?

Definisi kerja:
Semakin dekat ke sumber waktu, semakin jelas metode transmisi, semakin bisa diverifikasi secara independen → makin “historis”.

📘 Hadis

Teks utama seperti Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim memakai sistem sanad terperinci.

Kekuatan:

  • Rantai perawi individual.

  • Kritik biografi (jarh wa ta’dil).

  • Seleksi eksplisit.

Kelemahan:

  • Jarak ± 200 tahun.

  • Banyak hadis muncul dalam konflik politik.

  • Sanad bisa direkonstruksi retroaktif.

👉 Secara metodologis paling “historis” karena sadar historiografi.


📙 Taurat Lisan

Dikodifikasi menjadi Mishnah dan kemudian Talmud Babilonia.

Kekuatan:

  • Tradisi akademi rabinik berkesinambungan.

  • Diskusi terbuka & plural.

Kelemahan:

  • Tidak bertujuan merekam sejarah literal.

  • Lebih merupakan konstruksi hukum pasca-70 M.

👉 Kurang “historis” dalam arti dokumentasi peristiwa; lebih refleksi teologis-hukum.


📗 Tipitaka

Kanon Pali seperti Tipitaka.

Kekuatan:

  • Transmisi kolektif terstruktur.

  • Struktur formulaik membantu stabilitas.

Kelemahan:

  • Ditulis ± 400 tahun setelah Buddha.

  • Minim data sejarah konkret.

👉 Stabil sebagai tradisi, tapi kurang historiografis.


🏁 Kesimpulan “paling historis”

Jika maksudnya paling sadar metode sejarah dan kritik sumber, maka:
➡️ Hadis (dalam bentuk kanoniknya) paling historis secara metodologis.

Jika maksudnya paling dekat ke masa awal komunitas tanpa rekonstruksi politik besar, sebagian akademisi justru menilai Tipitaka awal mungkin menyimpan lapisan kuno — tapi ini soal kritik tekstual, bukan klaim internal.


2️⃣ Mana yang paling “teologis”?

Definisi kerja:
Seberapa besar teks berfungsi membentuk doktrin & ortodoksi sistematis.

Taurat Lisan

  • Membangun sistem hukum komprehensif.

  • Menjadi fondasi Yudaisme Rabinik.

  • Setelah kehancuran Yerusalem, ia menggantikan Bait Suci secara teologis.

👉 Sangat teologis & normatif.


Hadis

  • Sumber hukum kedua setelah Qur’an.

  • Menentukan akidah, fiqh, bahkan detail ritual.

👉 Juga sangat teologis, tapi berbasis figur Nabi.


Tipitaka

  • Lebih berfokus pada ajaran etika & meditasi.

  • Doktrin metafisik berkembang kemudian.

👉 Relatif kurang teologis dibanding dua lainnya (lebih soteriologis daripada legalistik).


🏁 Kesimpulan “paling teologis”

➡️ Taurat Lisan dan Hadis hampir seimbang,
tetapi Taurat Lisan mungkin paling sistematis secara hukum-teologis.


3️⃣ Mana paling rentan manipulasi politik?

Ini menarik.

Hadis

Muncul dalam konteks:

  • Konflik suksesi.

  • Dinasti Umayyah & Abbasiyah.

  • Pertarungan Sunni–Syiah.

Produksi hadis palsu tercatat dalam sejarah klasik Islam sendiri.

👉 Tingkat kerentanan tinggi.


Taurat Lisan

  • Dibentuk setelah negara hilang.

  • Tidak ada kekuasaan politik Yahudi saat kodifikasi awal.

  • Lebih defensif daripada ekspansif.

👉 Relatif rendah manipulasi negara (karena tanpa negara).


Tipitaka

  • Didukung raja seperti Ashoka.

  • Konsili dipengaruhi patronase kerajaan.

  • Namun tidak banyak dipakai untuk legitimasi perang atau kekuasaan langsung.

👉 Ada politisasi, tapi biasanya lewat patronase, bukan konflik teologis keras.


🏁 Kesimpulan “paling rentan manipulasi politik”

➡️ Hadis paling rentan secara historis, karena:

  • Terkait legitimasi kekuasaan.

  • Digunakan dalam konflik ideologis.

  • Diproduksi di tengah ekspansi kekaisaran.


🔎 Ringkasan Akhir

PertanyaanJawaban Paling Mungkin
Paling historis (metodologis)Hadis
Paling teologisTaurat Lisan (tipis beda dengan Hadis)
Paling rentan politisasiHadis


Tiga model “teknologi memori” yang sangat berbeda untuk menjaga ajaran sebelum ditulis. Kita bandingkan:

  • Sanad Hadis

  • Rantai Rabinik dalam Mishnah

  • Hafalan Kolektif sangha Buddhis


1️⃣ Sanad Hadis (model jaringan individu)

Contoh dalam kitab seperti Sahih al-Bukhari.

Struktur

Hadis biasanya berbentuk:

A meriwayatkan dari B dari C dari D dari Nabi.

Ini disebut isnad (sanad).

Contoh:

Bukhari → al-Humaydi → Sufyan → Yahya → Muhammad → Nabi

Karakter sistem

Ciri utama:

1️⃣ transmisi individu
2️⃣ setiap perawi punya biografi
3️⃣ ada kritik kredibilitas

Ilmu khusus berkembang:

  • jarh wa ta'dil (kritik perawi)

  • ilmu rijal (biografi perawi)

Tokoh seperti Muhammad al-Bukhari menilai ribuan perawi.

Kelebihan

  • sangat detail secara historis

  • memungkinkan analisis rantai transmisi

Kelemahan

  • rantai bisa direkayasa mundur

  • tradisi bisa “diproyeksikan” ke Nabi

Ini kritik yang terkenal dari Joseph Schacht.


2️⃣ Rantai Rabinik Mishnah (model sekolah intelektual)

Dalam tradisi rabinik, rantai transmisi bukan individu per hadis tetapi rantai guru besar.

Contoh klasik dalam Mishnah:

Musa → Yosua → Para tua-tua → Para nabi → orang-orang Majelis Agung

Lalu berlanjut ke rabi-rabi.

Karakter sistem

1️⃣ transmisi melalui akademi rabinik
2️⃣ diskusi hukum kolektif
3️⃣ tradisi disimpan sebagai perdebatan

Misalnya:

Rabbi A berkata…
Rabbi B berkata…

Kelebihan

  • transparan dalam perbedaan pendapat

  • menunjukkan evolusi hukum

Kelemahan

  • bukan dokumentasi sejarah literal

  • lebih seperti tradisi intelektual

Akademisi seperti Jacob Neusner menyebut Mishnah sebagai sistem pemikiran rabinik, bukan arsip tradisi Musa.


3️⃣ Hafalan Sangha Buddhis (model koor kolektif)

Digunakan untuk menjaga Tipitaka.

Metode

Para bhikkhu menghafal teks bersama dalam kelompok.

Metodenya:

  • chanting bersama

  • pembagian bagian teks

  • pengulangan ritmis

Contoh struktur dalam sutta:

Demikianlah yang kudengar...
Pada suatu waktu Sang Buddha...

Kalimat ini muncul berulang untuk membantu hafalan.

Sistem penghafalan

Ada kelompok khusus:

  • bhikkhu Vinaya (aturan monastik)

  • bhikkhu Sutta

  • bhikkhu Abhidhamma

Kelebihan

  • stabilitas tinggi

  • kesalahan mudah terdeteksi dalam recitation bersama

Kelemahan

  • tidak merekam siapa yang mengatakan apa

  • sulit melacak sejarah perkembangan ide

Tokoh seperti Richard Gombrich menilai metode ini cukup efektif menjaga inti ajaran.


🔎 Perbandingan Struktur

SistemBentuk memori
Hadis        jaringan individu
Mishnah        rantai guru & sekolah
Tipitaka        hafalan kolektif

📊 Perbandingan Ketahanan

AspekHadisMishnahTipitaka
Detail historistinggirendahrendah
stabilitas tekssedangsedangtinggi
transparansi debatrendahtinggirendah
kemampuan verifikasitinggirendahsedang

🧠 Analogi sederhana

Bayangkan tiga cara menyimpan cerita:

Hadis
➡️ seperti rantai email
kita tahu siapa meneruskan ke siapa.

Mishnah
➡️ seperti diskusi akademik
yang penting argumen, bukan siapa pertama kali.

Tipitaka
➡️ seperti lagu tradisional
yang dihafal bersama oleh komunitas.


Kesimpulan besar

Ketiga agama ini mengembangkan model memori yang berbeda:

  • Islam → historiografi sanad

  • Yudaisme → tradisi debat hukum

  • Buddhisme → hafalan monastik kolektif

Masing-masing cocok dengan struktur komunitasnya.


ꦄꦝ꧀ꦩꦶꦤ & Chat GPT

Kamis, 27 Maret 2025

Jumlah Ayat Al-Qur'an



Mushaf Al-Quran dengan Khat Maghribi

Beberapa ulama memiliki perbedaan cara dalam menghitung ayat Alquran. Paling tidak, terdapat 7 mazhab yang diikuti terkait hitungan jumlah ayat kitab suci umat Islam ini. Semuanya sepakat bahwa bilangan ayat Alquran lebih dari 6.200 ayat, namun berapa lebihnya, mereka berbeda pendapat. Ketujuh mazhab tersebut adalah

1) Al-Madani Al-Awwal. Ayat Alquran berjumlah 6.217 atau 6.214. Dalam beberapa versi cetak, jumlah yang banyak diikuti adalah 6.214 ayat.

2) Al-Madani al-Akhir. Ayat Alquran berjumlah 6.214. Meski terdapat kesamaan hitungan jumlah ayat Alquran dengan pendapat kedua Al-Madani al-Awwal, namun tetap terdapat perbedaan antara keduanya dalam perincian penentuan ayat.

3) Al-Makki. Ayat Alquran berjumlah 6.220.

4) Asy-Syami. Ayat Alquran berjumlah 6.226.

5) Al-Kufi. Ayat Alquran berjumlah 6.236. Hitungan Al-Kufi inilah yang diikuti oleh cetakan Alquran di Indonesia, dan seluruh cetakan Alquran di dunia yang menggunakan riwayat Hafs dari Imam ‘Asim.

6) Al-Basri. Ayat Alquran berjumlah 6.205.

7) Al-Himsi. Ayat Alquran berjumlah 6.232.

Dari tujuh pendapat di atas, dalam cetakan Alquran yang ada di seluruh dunia saat ini, penulis masih dapat menjumpai penggunaan hitungan ayat menurut lima mazhab, yaitu: Al-Madani Al-Awwal, Al-Madani Al-Akhir, Al-Makki, Asy-Syami, dan Al-Kufi. Sementara untuk al-Basri dan Al-Himsi, penulis belum menemukan.


Beda Hitungan Ayat

Lantas, kenapa terjadi perbedaan dalam menghitung ayat Alquran? Adanya perbedaan bukan berarti hitungan yang lebih banyak telah menambah ayat, atau sebaliknya yang lebih sedikit telah menguranginya; bukan demikian. Perbedaan terjadi karena cara penghitungan yang berbeda dari masing-masing mazhab.

Penghitungan ayat Alquran didasarkan dari bacaan Rasulullah saw yang didengar oleh para Sahabat Nabi. Lalu, bacaan tersebut diajarkan secara berkesinambungan (estafet) oleh para sahabat kepada generasi berikutnya.

Dalam hal mendengar bacaan, ketika Nabi berhenti pada beberapa kata tertentu, muncullah perbedaan pemahaman di antara yang mendengarkan; apakah Nabi sekedar waqaf, atau berhentinya tersebut disebabkan karena akhir ayat. Di sinilah letak perbedaannya.

Sebagai contoh sederhana, ketika Rasulullah membaca: alif lam mim, zalikal kitabu la raiba fih, hudal lilmuttaqin; maka apakah ketika berhenti pada alif lam mim itu, Nabi sekedar berhenti (waqaf sejenak), atau itu merupakan akhir ayat. Di sinilah ulama berbeda.

Al-Kufi menganggap, itu merupakan ayat tersendiri. Sementara yang lain menganggap itu sekedar berhenti untuk waqaf. Sehingga, Al-Kufi menghitung alif lam mim ayat 1, dan zalikal kitabu la raiba fih, hudal lilmuttaqin ayat 2. Sedang ulama lainnya, menghitung alif lam mim, zalikal kitabu la raiba fih, hudal lilmuttaqin menjadi ayat 1.

Perbedaan juga terjadi pada cara hitung ayat Surat Al Fatihah. Ulama sepakat bahwa surah Al-Fatihah terdiri dari 7 ayat. Namun, mereka berbeda pendapat dalam menentukan ayat-ayatnya.

Perbedaan terletak pada basmalah, apakah merupakan bagian dari surah Al-Fatihah atau tidak? Karenanya, kadang ada imam shalat yang membaca surah Al-Fatihah dimulai dengan basmalah, dan ada juga yang langsung memulai dengan hamdalah.

Al-Kufi berpendapat bahwa basmalah adalah bagian dari Surah Al-Fatihah. Basmalah adalah ayat pertama dan ayat ketujuah dari Surah Al-Fatihah adalah "siratal lazina an’amta ‘alaihim gairil magdubi ‘alaihim walad dallin".

Sementara pendapat lain mengatakan, basmalah bukan termasuk bagian dari Surah Al-Fatihah. Basmalah yang termasuk ayat Alquran hanya terdapat pada QS. An-Naml [27] ayat ke 30. Sehingga, ayat pertama Surah Al-Fatihah ialah hamdalah (al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin). Ayat keenamnya adalah siratal lazina an’amta ‘alaihim. Dan ayat ketujuh, gairil magdubi ‘alaihim walad dallin.

Bila dikaitkan dengan Ilmu Waqaf dan Ibtida’, bagi yang mengikuti pendapat Al-Kufi, maka berhenti pada siratal lazina an’amta ‘alaihim termasuk kategori waqaf yang tidak sempurna. Sebab, kalimat berikutnya merupakan penjelasan (na'at) dari allazina an’amta ‘alaihim. Karena itu, dalam Mushaf Al-Quran Indonesia, pada lafaz ‘alaihim yang pertama di ayat ketujuh, dibubuhkan tanda “lam alif” kecil di atas huruf terakhir pada akhir penggalan ayat. Itu berfungsi mengisyaratkan bahwa tidak boleh waqaf. Selain itu, ditambahkan pula tanda bulatan seperti huruf hijaiyah “ha” untuk menandakan bahwa pada lafaz ‘alaihim terdapat perbedaan penghitungan ayat.

Adapun bagi yang mengikuti pendapat siratal lazina an’amta ‘alaihim sebagai ayat tersendiri (ayat ke-6), maka berhenti pada ‘alaihim termasuk waqaf hasan, karena berhenti pada akhir ayat, meskipun masih terkait dengan ayat berikutnya.

Contoh lain dapat dilihat pada Ayat Kursi. Dalam hitungan Al-Kufi, Ayat Kursi terdapat pada Al-Baqarah ayat 255. Dalam hitungan al-Madani al-Awwal, Ayat Kursi adalah ayat 253 Surah Al-Baqarah. Sementara dalam hitungan Al-Madani Al-Akhir, itu terdapat pada ayat 253 dan 254 (menjadi dua ayat) Surat Al-Baqarah.


Referensi Hitungan Ayat

Terdapat puluhan kitab yang bisa dijadikan referensi untuk menghitung ayat Alquran. Ada kitab yang membahas secara khusus hitungan ayat Alquran, baik dalam bentuk nadham (bayt/sya’ir), atau bentuk deskripsi. Ada pula kitab yang menggabungkannya dengan pembahasan tema-tema Ulumul Quran lainnya.

Beberapa kitab yang secara khusus membahas hitungan ayat Alquran ialah: Mandhumah Nadhimah az-Zuhr fi ‘Addi Ayi as-Suwar, karya Asy-Syathibi (w. 590 H); Basyir al-Yusri Syarh Nadhimah az-Zuhr, Mandhumah al-Fara’id al-Hisan fi ‘Addi Ayi al-Qur’an, dan Nafa’is al-Bayan Syarh al-Fara’id al-Hisan fi ‘Addi Ayi al-Qur’an, ketiganya karya ‘Abdul Fattah ‘Abdul Ghani al-Qadli. Selain itu, Kitabu ‘Adadi Ayi al-Qur’an, karya Abul Hasan ‘Ali Muhammad bin Isma’il bin Bisyr at-Tamimi al-Anthaki (w. 377 H), dalam uraian yang lebih detail.

Meski ilmu menghitung ayat Alquran ini sudah final pembahasannya, namun penting juga mempelajarinya, agar kita tidak merasa aneh ketika melihat perbedaan pada Mushaf cetakan yang beredar di dunia Islam saat ini.


6.666 Ayat

Angka 6.666 sebagai jumlah ayat Alquran cukup populer karena memang cukup mudah dihafal. Sekali dengar, hampir dipastikan langsung ingat dan tidak mudah dilupakan.

Hitungan angka 6.666 dapat ditemukan dalam beberapa keterangan, antara lain dalam Nihayatuz-Zain fi Irsyadil-Mubtadi’in (DKI Lebanon, t.th. cet. ke-1/36) karya Syekh Nawawi al-Bantani (w. 1316 H/1897 M) dan At-Tafsir al-Munir fil-‘Aqidah wasy-Syari’ah wal-Manhaj, (Dar al-Fikr 2003, jilid 1/45) karya Wahbah az-Zuhaily dalam kitabnya

Pastinya, hitungan 6.666 tersebut tidak dimaksudkan menunjuk pada urutan jumlah ayat Alquran. Sebab, jumlah ayat Alquran merujuk pada 7 pendapat di atas. Dalam keterangan Syekh Nawawi dan Syekh Wahbah diketahui bahwa jumlah 6.666 tersebut dimaksudkan untuk menunjuk kandungan ayat Alquran.

Adapun rinciannya adalah sebagai berikut; al-amr (perintah) berjumlah 1000, an-nahy (larangan) berjumlah 1000, al-wa’d (janji) berjumlah 1000, al-wa’id (ancaman) berjumlah 1000, al-qasas wal-akhbar (kisah-kisah dan informasi) berjumlah 1000, al-ibr wal-amtsal (pelajaran dan perumpamaan) berjumlah 1000, al-haram wal halal (halal dan haram) berjumlah 500, ad-du’a (doa) berjumlah 100, dan an-nasikh wal-mansukh (nasikh mansukh) berjumlah 66.

Namun demikian, jumlah kandungan Alquran sebanyak 6.666 ini juga hanya datu dari sekian banyak pendapat yang ada. Ulama Alquran mempunyai hitungan yang berbeda-beda terkait klasifikasi kandungan ayat Alquran. Meski begitu, tidak ada pendapat yang mengklaim sebagai paling benar melebihi pendapat lainnya.

Fahrur Rozi, Pentashih LPMQ Kementerian Agama RI

https://kemenag.go.id

******

Daftar Surah Al-Qur'an beserta jumlah ayatnya

114 Surah dalam Al-Qur'an (https://quran.kemenag.go.id/)

No.Nama SurahArti NamaAyatTempat Turun
1Al-FatihahPembukaan7Makkiyah
2Al-BaqarahSapi Betina286Madaniyah
3Ali 'ImranKeluarga Imran200Madaniyah
4An-Nisa'Wanita176Madaniyah
5Al-Ma'idahHidangan120Madaniyah
6Al-An'amBinatang Ternak165Makkiyah
7Al-A'rafTempat Tertinggi206Makkiyah
8Al-AnfalRampasan Perang75Madaniyah
9At-TaubahPengampunan129Madaniyah
10YunusNabi Yunus109Makkiyah
11HudNabi Hud123Makkiyah
12YusufNabi Yusuf111Makkiyah
13Ar-Ra'dGuruh43Madaniyah
14IbrahimNabi Ibrahim52Makkiyah
15Al-HijrHijr99Makkiyah
16An-NahlLebah128Makkiyah
17Al-Isra'Perjalanan Malam111Makkiyah
18Al-KahfGua110Makkiyah
19MaryamMaryam98Makkiyah
20Ta-HaTa Ha135Makkiyah
21Al-Anbiya'Para Nabi112Makkiyah
22Al-HajjHaji78Madaniyah
23Al-Mu'minunOrang-Orang Mukmin118Makkiyah
24An-NurCahaya64Madaniyah
25Al-FurqanPembeda77Makkiyah
26Asy-Syu'ara'Para Penyair227Makkiyah
27An-NamlSemut93Makkiyah
28Al-QasasKisah-Kisah88Makkiyah
29Al-AnkabutLaba-Laba69Makkiyah
30Ar-RumBangsa Romawi60Makkiyah
31LuqmanLuqman34Makkiyah
32As-SajdahSajdah30Makkiyah
33Al-AhzabGolongan Yang Bersekutu73Madaniyah
34Saba'Saba'54Makkiyah
35FatirPencipta45Makkiyah
36Ya-SinYa Sin83Makkiyah
37As-SaffatBarisan-Barisan182Makkiyah
38SadSad88Makkiyah
39Az-ZumarRombongan75Makkiyah
40GafirMaha Pengampun85Makkiyah
41FussilatYang Dijelaskan54Makkiyah
42Asy-SyuraMusyawarah53Makkiyah
43Az-ZukhrufPerhiasan89Makkiyah
44Ad-DukhanKabut59Makkiyah
45Al-JasiyahYang Berlutut37Makkiyah
46Al-AhqafBukit-Bukit Pasir35Makkiyah
47MuhammadMuhammad38Madaniyah
48Al-FathKemenangan29Madaniyah
49Al-HujuratKamar-Kamar18Madaniyah
50QafQaf45Makkiyah
51Az-ZariyatAngin Yang Menerbangkan60Makkiyah
52At-TurBukit49Makkiyah
53An-NajmBintang62Makkiyah
54Al-QamarBulan55Makkiyah
55Ar-RahmanYang Maha Pengasih78Madaniyah
56Al-Waqi'ahHari Kiamat96Makkiyah
57Al-HadidBesi29Madaniyah
58Al-MujadalahGugatan22Madaniyah
59Al-HasyrPengusiran24Madaniyah
60Al-MumtahanahPerempuan Yang Diuji13Madaniyah
61As-SaffBarisan14Madaniyah
62Al-Jumu'ahHari Jumat11Madaniyah
63Al-MunafiqunOrang-Orang Munafik11Madaniyah
64At-TagabunHari Dinampakkan Kesalahan18Madaniyah
65At-TalaqTalak12Madaniyah
66At-TahrimMengharamkan12Madaniyah
67Al-MulkKerajaan30Makkiyah
68Al-QalamPena52Makkiyah
69Al-HaqqahHari Kiamat52Makkiyah
70Al-Ma'arijTempat-Tempat Naik44Makkiyah
71NuhNabi Nuh28Makkiyah
72Al-JinnJin28Makkiyah
73Al-MuzzammilOrang Yang Berselimut20Makkiyah
74Al-MuddassirOrang Yang Berkemul56Makkiyah
75Al-QiyamahHari Kiamat40Makkiyah
76Al-InsanManusia31Madaniyah
77Al-MursalatMalaikat-Malaikat Yang Diutus50Makkiyah
78An-Naba'Berita Besar40Makkiyah
79An-Nazi'atMalaikat Yang Mencabut46Makkiyah
80'AbasaIa Bermuka Masam42Makkiyah
81At-TakwirMenggulung29Makkiyah
82Al-InfitarTerbelah19Makkiyah
83Al-MutaffifinOrang-Orang Curang36Makkiyah
84Al-InsyiqaqTerbelah25Makkiyah
85Al-BurujGugusan Bintang22Makkiyah
86At-TariqYang Datang di Malam Hari17Makkiyah
87Al-A'laYang Mahatinggi19Makkiyah
88Al-GasyiyahHari Pembalasan26Makkiyah
89Al-FajrFajar30Makkiyah
90Al-BaladNegeri20Makkiyah
91Asy-SyamsMatahari15Makkiyah
92Al-LailMalam21Makkiyah
93Ad-DuhaWaktu Duha11Makkiyah
94Asy-SyarhMelapangkan8Makkiyah
95At-TinBuah Tin8Makkiyah
96Al-'AlaqSegumpal Darah19Makkiyah
97Al-QadrKemuliaan5Makkiyah
98Al-BayyinahBukti Nyata8Madaniyah
99Az-ZalzalahKegoncangan8Madaniyah
100Al-'AdiyatKuda Yang Berlari Kencang11Makkiyah
101Al-Qari'ahHari Kiamat11Makkiyah
102At-TakasurBermegah-Megahan8Makkiyah
103Al-'AsrMasa3Makkiyah
104Al-HumazahPengumpat9Makkiyah
105Al-FilGajah5Makkiyah
106QuraisySuku Quraisy4Makkiyah
107Al-Ma'unBarang Yang Berguna7Makkiyah
108Al-KausarNikmat Yang Banyak3Makkiyah
109Al-KafirunOrang-Orang Kafir6Makkiyah
110An-NasrPertolongan3Madaniyah
111Al-LahabGejolak Api5Makkiyah
112Al-IkhlasIkhlas4Makkiyah
113Al-FalaqWaktu Subuh5Makkiyah
114An-NasManusia6Makkiyah
Total: 114 Surah & 6.236 Ayat dalam Al-Qur'an terbitan Depag.

************

Khat Naskhi & Khat Maghribi
***

Jumlah Ayat Al-Qur’an Bukan 6666 Yang Telah Dikenal Masyarakat

(https://proceedings.iaipd-nganjuk.ac.id)

Agung Mandiro Cahyono || IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk

Keywords: Mushaf, Ayat

Abstract

Jumlah ayat al-Qur’an dikenal masyarakat khususnya di Indonesia sebanyak 6666. Bahkan terdapat di buku-buku bacaan, pelajaran mulai SD, SMP, SMA atau yang sederajat yang menuliskan jumlah ayat al-Qur’an ada 6666. Penulis membuktikan ketika kuliah S2 jurusan Ilmu Tafsir di PTIQ Jakarta, mahasiswa sebanyak sekitar 15 orang dan yang hafal al-Qur’an 5 orang. Ditanya oleh Profesor Ilmu al-Qur’an tentang jumlah ayat al-Qur’an semua serentak menjawab 6666. Bahkan  5 orang yang hafal al-Qur’an pun menjawab 6666. Kemudian Profesor menyuruh untuk menghitung ayat al-Qur’an ternyata berjumlah 6236 ayat. Penulis ketika mengajar mahasiswa di sebuah Instutut Agama Islam. Setiap menanya kepada mahasiswa tentang berapa jumlah ayat al-Qur’an, mereka menjawab 6666. Di madrasah Aliyah pun juga siswa-siswinya menjawab 6666. Melihat fakta tersebut, maka perlu ishlah untuk menerangkan jumlah ayat al-Qur’an yang sebenarnya.

Penulis menyajikan dua mushaf al-Qur’an yang berbeda, yaitu pertama, Bi ar-Riwâyati Hafsh li Qirâ’ati  Âshim merupakan mushaf untuk Indonesia dengan jumlah  6236 ayat, hal ini menurut perhitungan ulama Kufah. Kedua, Bi ar-Riwâyati Warsy li Qirâ’ati Nâfi’ dengan jumlah 6214 ayat, hal ini merupakan perhitungan ulama Madinah.


******

Al-Fatihah dalam Font Kufi (mbah_djim)

************

Al-Qur’an adalah Kalâmullâh yang diturunkan kepada Nabi Muẖammad saw. melalui perantara malaikat Jibrîl as. sebagai mu’jizat. Al-Qur’an adalah sumber ilmu dan menjadi dasar-dasar hukum yang mencakup segala hal, baik aqidah, ibadah, etika, mu’amalah dan lain sebagainya. Lalu, mengapa terjadi perbedaan dalam menghitung ayat al-Qur’an? Jawabannya adalah bahwa adanya perbedaan tersebut bukan berarti hitungan yang lebih banyak telah menambah ayat, atau sebaliknya yang lebih sedikit telah menguranginya. Tidak demikian. Perbedaan itu terjadi karena cara penghitungan yang berbeda dari masing-masing madzhab. Setidaknya, ada tujuh madzhab yang dikenal terkait hitungan jumlah ayat dalam kitab suci umat Islam ini. Semuanya sepakat bahwa jumlah ayat al-Quran lebih dari 6.200 ayat, namun tentang berapa lebihnya, mereka berbeda pendapat. Madzhab yang tujuh itu adalah al-Madanî al-Awwal, al-Madanî ats-Tsânî atau Madanî al-Akhîr, al-Makkî, asy-Syâmî, al-Bashrî, al-Kûfî, dan al-imshî. Ada yang menghitung 6.204, 6.210, 6.214, 6.217, 6.219, 6.220, 6.226, 6.232, dan ada juga yang menghitung 6.236 sebagaimana hitungan dalam mushaf yang biasa kita gunakan dalam riwayat afsh ‘an ‘Âshim.

Pembahasan mengenai hitungan ayat-ayat al-Qur’an memang sudah final, tetapi mempelajarinya tetap sangat penting, terlebih hitungan tersebut masih digunakan di dalam mushaf-mushaf yang dicetak saat ini. Jangan sampai ketika di antara kita menemukan mushaf dengan qirâ’ât dan riwayat tertentu dengan penomoran ayat yang berbeda dari mushaf yang biasa digunakan, lantas menuduhnya dengan tuduhan yang jelek, yang akhirnya malah mempermalukan diri sendiri karena ketidaktahuannya. Belum lagi ada keterangan yang beredar bahwa al-Qur’an terdiri dari 6.666 ayat. Jumlah ini memang disampaikan oleh para ulama di dalam karya mereka. Namun apakah hitungan tersebut adalah hitungan dari sudut pandang ilmu ‘add al-ây, ataukah dari sudut pandang lain. Di sinilah pentingnya pengetahuan tentang hal ini, dan karenanya, semoga bisa memberi tambahan pengetahuan bagi kita.

MENGHITUNG jumlah ayat, KATA & HURUF AL-QUR'AN

Tanpa melihat perbedaan cara penghitungan (https://archive.org/)

No.SurahJumlah AyatKataHuruf
1Al-Fatihah7 
25120
2Al-BaqarahAl-Hijazi dan Asy-Syami: 285
Al-Kufi: 286
Al-Bashri: 287
6.12125.500
3Ali 'Imran200
3.48014.525
4An-Nisa'Al-Hijazi & Al-Bashri: 178
Asy-Syami: 177
Al-Kufi: 176
3.94516.030
5Al-Ma'idahAl-Kufi: 120
Al-Hijazi & Asy-Syami: 122
Al-Bashri: 123
2.80411.733
6Al-An'amAl-Kufi: 165
Al-Bashri & Asy-Syami: 166
Al-Hijazi: 167
3.05212.422
7Al-A'rafAl-Bashri & Asy-Syami: 205
Al-Harami & Al-Kufi: 206
3.33514.310
8Al-AnfalAl-Kufi: 75
Al-Hijazi & Al-Bashri: 76
Asy-Syami: 77
1.2315.294
9At-TaubahAl-Kufi: 129
Lainnya: 130
2.49710.887
10YunusAsy-Syami: 110
Lainnya: 109
1.8327.567
11HudAl-Madani Ats-Tsani: 121
Al Makki & Al Bashri: 121
Al-Madani Al-Awwal: 122
Asy-Syami: 122
Al-Kufi: 123
1.9157.567
12Yusuf1111.0767.043
13Ar-Ra'dAL-Kufi: 43
Al-Hijazi: 44
Al-Bashri: 45
Asy-Syami: 47
8553.506
14IbrahimAl-Bashri: 51
Al-Kufi: 52
Al-Hijazi: 54
Asy-SYami: 55
8313.434
15Al-Hijr996542.771
16An-Nahl1281.8417.707
17Al-Isra'Al-Kufi: 111
Lainnya: 110
1.5336.460
18Al-KahfAl-Hijazi: 105
Asy-Syami: 106
Al-Kufi: 110
Al-Bashri: 111
1.5776.360
19MaryamAl-Madani Awwal: 98
Al-Iraqi & Asy-Syami: 98
Al-Madani Ats-Tsani: 99
Al-Makki: 99
9623.802
20Ta-HaAl-Bashri: 132
Al-Hijazi: 134
Al-Kufi: 135
Asy-Syami: 140
1.3415.242
21Al-Anbiya'Al-Kufi: 112
Lainnya: 111
1.1684.890
22Al-HajjAsy-Syami: 74
Al-Bashri: 75
Al-Madani: 76
Al-Makki: 77
Al-Kufi: 78
1.2915.175
23Al-Mu'minunAl-Kufi: 118
Lainnya: 119
1.8404.802
24An-NurAl-Harami: 62
Lainnya: 64
1.3165.680
25Al-Furqan778923.783
26Asy-Syu'ara'Al-Madani Ats-Tsani: 226
Al-Makki & Al-Bashri: 226
Lainnya: 227
1.2975.542
27An-NamlAl-Kufi: 93
Asy-Syami & Al-Bashri: 94
Lainnya: 95
1.1494.790
28Al-Qasas881.4415.800
29Al-Ankabut699804.195
30Ar-RumAl-Madani Ats-Tsani: 59
Al-Makki: 59
Lainnya: 60
8193.534
31LuqmanAL-Hijazi: 33
Al-Kufi: 34
5482.110
32As-SajdahAl-Bashri: 29
Lainnya: 30
3801.518
33Al-Ahzab731.2805.796
34Saba'Asy-Syami: 55
Lainnya: 54
8833.512
35FatirAl-Madani Al-Awwal: 45
Al-Makki & Al-Iraqi: 45
Al-Madani Ats-Tsani: 46
Asy-Syami: 46
7773.130
36Ya-SinAl-Kufi: 83
Lainnya: 82
7273.020
37As-SaffatAl-Bashri: 181
Abu Ja'far dari
Al-Madani Ats-Tsani: 181
Lainnya: 182
Syaibah dari
Al-Madani Ats-Tsani: 182
8603.826
38SadAl-Bashri hitungan
'Ashim Al-Jahdari: 85
Al-Hijazi & Asy-Syami: 86
Al-Bashri hitungan
Ayyub ibn Al-Mutawakkil: 86
Al-Kufi: 88
7323.069
39Az-ZumarAl-Hijazi & Al-Bashri: 72
Asy-Syami: 73
Al-Kufi: 75
1.1724.780
40GafirAl-Bashri: 82
Al-Hijazi: 84
Al-Kufi: 85
Asy-Syami: 86
1.1994.960
41FussilatAl-Bashri & Asy-Syami: 52
Al-Hijazi: 53
Al-Kufi: 54
7763.350
42Asy-SyuraAl-Kufi: 53
Lainnya: 50
8663.588
43Az-ZukhrufAsy-Syami: 88
Lainnya: 89
8333.400
44Ad-DukhanAl-Hijazi & Asy-Syami: 56
Al-Bashri: 57
Al-Kufi: 59
3461.431
45Al-JasiyahAl-Kufi: 37
Lainnya: 36
4882.191
46Al-AhqafAl-Kufi: 35
Lainnya: 34
6442.600
47MuhammadAl-Kufi: 38
Al-Hijazi & Asy-Syami: 39
Al-Bashri: 40
5392.349
48Al-Fath295301.438
49Al-Hujurat183431.476
50Qaf453751.474
51Az-Zariyat603601.287
52At-TurAl-Hijazi: 47
Al-Bashri: 48
Asy-Syami & Al-Kufi: 49
3121.000
53An-NajmAl-Kufi: 62
Lainnya: 61
3601.405
54Al-Qamar553421.423
55Ar-RahmanAl-Bashri: 76
Al-Hijazi: 77
Asy-Syami & Al-Kufi: 78
3511.636
56Al-Waqi'ahAl-Kufi: 96
Al-Bashri: 97
Al-Hijazi & Asy-Syami: 99
3781.703
57Al-HadidAl-Hijazi & Al-Kufi: 28
Al-Iraqi: 29
5441.476
58Al-MujadalahAl-Madani Ats-Tsani: 21
Al-Makki: 21
Lainnya: 22
4731.792
59Al-Hasyr244451.113
60Al-Mumtahanah133481.510
61As-Saff14221926
62Al-Jumu'ah11180748
63Al-Munafiqun11180776
64At-Tagabun182411.070
65At-TalaqAl-Bashri: 11
Lainnya: 12
2491.060
66At-Tahrim122471.160
67Al-MulkAl-Madani Ats-Tsani: 31
Lainnya: 30
3351.313
68Al-Qalam523001.256
69Al-HaqqahAl-Bashri & Asy-Syami: 51
Lainnya: 52
2561.084
70Al-Ma'arijAsy-Syami: 43
Lainnya: 44
216861
71NuhAl-Kufi: 28
Al-Bashri dan Asy-Syami: 29
Al-Hijazi: 30
224929
72Al-Jinn28285759
73Al-MuzzammilAl-Madani Ats-Tsani: 18
Al-Bashri: 19
Lainnya: 20
190838
74Al-MuddassirAl-Madani Ats-Tsani: 55
Al-Makki & Asy-Syami: 55
Lainnya: 56
2551.010
75Al-QiyamahAl-Kufi: 40
Lainnya: 39
199652
76Al-Insan312421.054
77Al-Mursalat50181816
78An-Naba'Al-Bashri: 41
Lainnya: 40
173770
79An-Nazi'atAl-Kufi: 46
Lainnya: 45
179753
80'AbasaAsy-Syami: 40
Al-Bashri: 41
Al-Madani Ats-Tsani
menurut Abu Ja'far: 41
Lainnya: 42
133523
81At-TakwirAbu Ja'far: 28
Lainnya: 29
104523
82Al-Infitar1981327
83Al-Mutaffifin36169730
84Al-InsyiqaqAl-Bashri & Asy-Syami: 23
Lainnya: 25
109430
85Al-Buruj22109430
86At-TariqAl-Madani Al-Awwal: 16
Lainnya: 17
61239
87Al-A'la1972271
88Al-Gasyiyah2692391
89Al-FajrAl-Bashri: 29
Al-Syami & Al-Kufi: 30
Al-Hijazi: 32
137597
90Al-Balad2082331
91Asy-SyamsAl-Madani Al-Awwal: 16
Lainnya: 15
54246
92Al-Lail2171310
93Ad-Duha1140172
94Asy-Syarh827103
95At-Tin834150
96Al-'AlaqAsy-Syami: 18
Al-Iraqi: 19
Al-Hijazi: 20
72280
97Al-QadrAl-Madani & Al-Iraqi: 5
Lainnya: 6
30112
98Al-BayyinahAl-Hijazi & Al-Kufi: 8
Lainnya: 9
94396
99Az-ZalzalahAl-Madani Al-Awwal: 8
Al-Kufi: 8
Lainnya: 9
35149
100Al-'Adiyat1140163
101Al-Qari'ahAl-Bashri & Asy-Syami: 8
Al-Hijazi: 10
Al-Kufi: 11
26152
102At-Takasur828120
103Al-'Asr31468
104Al-Humazah933133
105Al-Fil52396
106QuraisyAl-Iraqi & Asy-Syami: 4
Al-Hijazi: 5
1773
107Al-Ma'unAl-Hijazi & Asy-Syami: 6
Al-Iraqi: 7
25113
108Al-Kausar31042
109Al-Kafirun62694
110An-Nasr31977
111Al-Lahab52377
112Al-IkhlasAl-Madani & Al-Iraqi: 4
Al-Makki & Asy-Syami: 5
1547
113Al-Falaq52379
114An-NasAl-Madani & Al-Iraqi: 6
Lainnya: 7
2079
Berdasarkan perhitungan di atas: Al-Quran tersusun dari 77.612 kata & 319.791 Huruf.

************