Senin, 30 Maret 2015

Panjingan

(Dibutuhkan Font Aksara Jawa Unicode untuk melihat naskah secara penuh)


Bagi pengguna jawa baru, beberapa orang kesulitan untuk menuliskan CUMPLUNG KECEMPLUNG BLUMBANG GEMBLUNDHUNG KEMAMBANG, beberapa variasi dari suku kata ini juga sering digunakan untuk ujicoba. Namun bagi pengguna tata cara tulis jawa lama dan tata tulis jawa yang liberal tidak mengalami kesulitan apa-apa.



Dalam tata tulis Aksara Jawa ada yang disebut dengan istilah "Panjingan"

PANJINGAN

Panjingan itu ada 5 macam
1. Panjingan RA = cakra
2. Panjingan Ya = pèngkal
3. Panjingan RÊ = kêrêt
4. Panjingan La = sêpêrti pasangan LA
5. Panjingan WA= sêpêrti pasangan WA

Karena panjingan RA, YA dan RÊ bentuknya tidak sama dengan pasangan RA, YA, RÊ maka mudah cara membedakanya dan ketiga panjingan ini sudah mempunyai nama sendiri yaitu cakra, pèngkal dan kêrêt maka ketiga panjingan ini dikelompokan bukan pada macam-macam panjingan, tetapi masuk pada jenis-jenis saṇḍangan. Tinggal 2 saja yang biasa disebut panjingan yaitu panjingan WA dan panjingan LA.
 
Panjingan adalah sêsêlan (sisipan) huruf lain pada satu aksara. Panjingan dibaca menyatu dengan aksara yang dipanjinginya. Ini yang membedakan antara panjingan dan pasangan.

Misalnya begini :
 
Panjingan LA :

ꦄꦩ꧀ꦥ꧀ꦭꦱ꧀ = Amplas

ꦥ꧀ꦭꦱ꧀ꦠꦶꦏ꧀ = plastik

ꦱ꧀ꦭꦺꦴꦒꦤ꧀ = ꦱ꧀ꦭꦼꦴꦒꦤ꧀ = slogan

Panjingan WA :

ꦱ꧀ꦮꦫ = Swara

ꦢ꧀ꦮꦶꦥ = Dwipa

ꦏ꧀ꦮꦕꦶ = Kwaci

Perhatikan kata dalam contoh diatas. Bunyi LA dan WA mênèmpèl pada aksara yang dipanjingi.

PASANGAN

Pasangan itu adalah pemutus huruf sebelumnya dengan huruf yang berupa pasangan baik itu dalam satu kata ataupun pada saat pergantian kata.
Contoh :
 
ꦱꦤ꧀ꦠꦶ santi (san-ti) pasangan akan terbaca sebagai huruf mandiri yang hidup.tidak menempel pada huruf yang dipasangi ( bukan dibaca SA-NTI)
 
Pasangan LA dan WA itu hanya terjadi saat perpindahan kata satu dengan kata berikutnya karena jika ada "seperti pasangan WA dan LA berada dalam satu kata" maka jelas itu bukan pasangan tetapi panjingan, seperti contoh di atas.

Contoh pasangan WA
 
ꦥꦏ꧀ꦮꦲꦶꦢ꧀ = Pak Wahid

ꦫꦻꦴꦠ꧀ꦮꦗꦃ = Raut wajah

Contoh pasangan LA :

ꦆꦏꦤ꧀ꦭꦺꦭꦺ = Ikan lélé

ꦈꦝꦶꦤ꧀ꦭꦥꦫ꧀ =
ꦈꦝꦶꦤ꧀ꦭꦥꦂ = Udin lapar

Perhatikan:
Di sini pasangan WA dan LA berada tepat saat pergantian kata. Cara membedakan panjingan LA, WA dengan pasangan LA, WA bukan pada bentuknya tetapi pada penempatan dalam teks.

Panjingan dalam suatu kasus penulisan kata, akan membentuk sebuah aksara bertumpuk tiga, seperti pada contoh-contoh Koleksi Karaton Ngayugyakarta Hadiningrat berikut ini :







Jaman dulu tidak ada masalah dengan aksara yang bertumpuk-tumpuk, karena dari Pallawa dan Devanagari yang merupakan babon Aksara Kawi dan akhirnya berkembang menjadi Aksara Jawa juga menulis dengan konsonan yang bertumpuk-tumpuk.

Panjingan RA dan YA masih bisa disandhangi seperti :

ꦩꦔꦤ꧀ꦏꦿꦸꦥꦸꦏ꧀ = Mangan Krupuk

Panjingan LA dan WA tidak bisa dipasangi atau dipanjingi lagi karena akan bertumpuk-tumpuk semakin jauh ke bawah. Dalam catatan Serat Ajisaka dan Serat Wujil  dan banyak contoh yang lain, panjingan LA masih bisa di-suku, namun hanya sampai suku saja, sehingga bisa menuliskan angklung, cangklung, gemblung, jemblung, kenclung, dll tanpa harus menempatkan pangkon di tengah kata yang akan membingungkan pembaca (pangkon bisa menjadi koma apabila berada di tengah kalimat).

 Gemblung

Ngajak nglurug blusukkan.

Berikut contoh penggunaan pangkon ditengah kalimat, bukan sebagai koma, bukan menghindari tumpuk tiga, juga bukan untuk rata (alignment) kanan.


 
Untuk kerapian penulisan memang sebenarnya bisa diuraikan saja, karena aksara kita akan lebih rapi apabila tidak bertumpuk 3, misalnya : mangan kuwaci, adol kuwali, mangan gulali, adol gulali. Namun apabila bisa menjaga nilai estetika, kerapian dan memang memadai, bisa juga ditulis seperti di bawah ini :

Mangan Kwaci, Adol Kwali

Dalam perkembangannya dengan munculnya mesin cetak yang belum secanggih saat ini, karena dulu untuk mencetak setiap karakter harus dibuat satu plat sehingga aksara bersusun akan sangat memboroskan pembuatan plat dan itu tidak efisien, aksara bersusun 3 atau lebih juga membuat susunan aksara secara estetika juga kurang rapi, jadi muncullah peraturan baru bahwa Aksara Jawa tidak boleh bersusun tiga, karena selain memboroskan jarak spasi ke bawah juga kurang rapi.

Panjingan Wa dalam Aksara Ra
Dalam Paugeran Sriwedari Aksara NGA tidak dapat dipasangi karena akan digantikan dengan Cecak, namun dalam Cara Tradisional Aksara RA adalah satu-satunya aksara yang tidak bisa dipasangi, karena bentuknya yang kecil, Aksara Ra tidak dipasangi, tetapi dijunjung ke atas menjadi layar. Meski demikian, Aksara RA bisa dipanjingi, dan panjingan yang umum pada Aksara RA adalah Panjingan WA.


Nga-lêlêt dan Panjingan LA :
Nga-lêlêt hanya bisa menjadi pasangan, tidak bisa menjadi panjingan. Pasangan Nga-lelet selalu merupakan awal dari sebuah kata.
 Bu Bardi mundhak lemu. Ngidak lemah bisa bebles.

Contoh Penulisan Nama :
Sebuah nama "DHIMAS DWI SAPUTRA". Dalam nama "Dwi" bunyi 'wa' merupakan panjingan. Jadi bisa saja dtempatkan di bawah SA. Tinggal dipilih saja mau yang warna merah atau hitam, dua-duanya benar.

Contoh lain :

 Dimas Dwiyarta lagi hanisil kwaci.

Hitam : Cara Tradisional
Merah : Cara Sriwedari

Sumber :
Wedaranipun Bapa Iqra Hanacaraka, Bapa Waskita Kinanthi, Bapa YBG Kramawirya, kaliyan pendhapat para sutresna Aksara Jawa ing Grup Sinau Nulis Jawa.
(https://www.facebook.com/groups/sinau.nulis.jawa/)

12 komentar:

  1. bagaimana menuliskan huruf jawa di media digital, saya tidak bisa menulis aksara pasangan dan murda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon maaf baru membalas, silahkan masuk di Grup Facebook (https://www.facebook.com/groups/sinau.nulis.jawa/)

      Disana informasi tentang aksara jawa di perangkat selalu update.

      Hapus
  2. Apa beda nya kata Mlebu sama Lemper, sehingga harus menggunakan aksara yang beda, satu di pepet, satu lagi di Nga Lelet..?!?! Pusing saya.. apa sii beda nya pepet sama Pa Cerek dan Nga lelet ini..?!??!?! 2 halaman google saya buka.. semua sama.. gak ada penjelasan kenapa orang jawa membedakan antara pepet dengan pa cerek dan nga lelet ini.. mohon pencerahannya plisssssssssssssssssssss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bunyi Ê pêpêt adalah sama dengan bunyi Ê pada: Pêlaku, pêmain, dll

      Pa Cèrèk adalah bentuk khusus dari Rå+Pêpêt

      Sedangkan Nga lêlêt adalah bentuk khusus dari Lå+Pêpêt

      Bedanya Mlêbu dan lêmpér adalah pembagian suku kata saja.

      Mlê-bu ditulis dengan Lå+pêpêt karena M dan L dibaca sebagai satu huruf bersatu: Mlê - Bu

      Sedangkan Lêmper, huruf L berdiri sendiri sebagai huruf L

      Contoh lain yg menggunakan Lå+pêpêt adalah kata "Klê-bus (basah)"

      Hapus
    2. Jika kasus lå+pêpêt adalah kondisi menyatunya huruf L dengan huruf konsonan di depannya

      Kêrêt adalah bentuk khusus saat Rå+Pêpêt menyatu dengan huruf konsonan di depannya...

      Hapus
  3. pada sampel di atas.. bagaimana cara akang ngebedain antara kata Glepung, Bareng, Lemu, Kreteg dsb itu mesti di Pepet atau di Pa Cerek dan Nga Lelet??? Atau orang Jawa punya sense yang beda terhadap kata2 tersebut? Wahh kalu itu masalahnya, lalu gimana dengan yang bukan wong jowo kang mas, gmn cara kami membedakan mana yang mesti Pepet, mana yng mesti Pa Cerek dan Nga Lelet..?!?!? (Iki seriusan iki ndoro) (Y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Glêpung, pakai lå-pepet karena G dan L dibaca menyatu: GLÊ

      Barêng pakai pa-cèrèk karena RE berdiri sendiri: ba - RÊ - ng
      Meski RÊNG adalah satu suku kata, tapi R dan NG diucapkan terpisah

      Krêtêg sudah pasti pakai kêrêt, bukan på-cèrèk karena K dan R dan Ê dibaca satu kesatuan

      Hapus
    2. Orang bukan jawa, yang penting bisa bedakan "taling" sama "pepet" itu sudah bagus...

      Hapus
  4. tapi lumayan mulai ngerti sii.. sekarang ada hal baru yang membuat makin interes nii om.. Wa pada Karwa.. lagi baru sadar ada itu.. ckckck.. pelan2 ya om, saya nya jangan di omelin.. namanya juga orang lagi belajar hehehee.. suwun sekali om (Y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bentuk seperti itu untuk cara penulisan jawa kuno / kawi

      Model lain dalam cara kuno:
      Kå + repha + wå + pasangan wå

      Repha ini bentuknya seperti layar, tapi letaknya di atas wå

      Untuk saat ini, pakai saja ejaan termudah, yaitu:
      Kå + layar + wå

      Hapus
  5. Wa itu, wa pada karwa, wa pada nuswantara, wi pada dwi, wa pada swastika, dll itu namanya apa om? klu gak salah.. sandhangan wyangjana itu ada 3, Cakra, Cakra Keret sama Pengkal.. saya cenderung memasukkan Wa ini di sandhangan Wyanjana ini om (katakanlah anggota baru).. bisa seperti itu atau ada kategori nya sendiri om? ckckckckk.. banyak tanya nii.. abis.. saya buka gugle.. yang ngebahas kek gini gak banyak, paling bentuknya doang tanpa penjelasan, lalu kalo ada yang komen, si pemilik tulisan gak pernah nongol buat jawab dsb dsb.. (malah curcol) matur suwun om (Y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu namanya "panjingan" bukan "pasangan"

      Di atas sudah ditulis bedanya hehehe

      Hapus