Sumber :
Gensbeaux Library is a digital library dedicated to documenting, organizing, and sharing knowledge across disciplines. It contains articles, tutorials, references, research notes, and learning resources that continue to grow alongside advances in science, technology, language, culture, and human understanding.
Selasa, 23 Februari 2016
Jumat, 12 Februari 2016
Minggu, 10 Januari 2016
Aksara Bugis
Aksara Bugis berbasis SUKU KATA (silabel) berstruktur Konsonan-Vokal (KV). It is a simple VC Syllable Type.
Silabel-silbel tersebut semua berbunyi dasar A (kecuali 4 Silabel tambahan berstruktur komplex, mengandung nasal : Ngka-Mpa-Nra-Nca). 4 Pengecualian ini tidak terdapat dalam Aksara Makassar
Aksara Bugis hanya terdiri dari 23 Silabel Dasar.
Catatan 1:
Ada 17 Konsonan dalam Aksara Bugis, dibuat dengan cara membuat GARIS BAWAH pada Silable Dasar. Walaupun Konsonan belum diformalkan, berbagai kalangan masyarakat sudah mencoba memakai konsonan tersebut untuk tujuan:
Ada 17 Konsonan dalam Aksara Bugis, dibuat dengan cara membuat GARIS BAWAH pada Silable Dasar. Walaupun Konsonan belum diformalkan, berbagai kalangan masyarakat sudah mencoba memakai konsonan tersebut untuk tujuan:
1. Memudahkan pembelajaran Aksara
2. Memungkinkan Aksara Bugis dipakai untuk menulis kalimat berbasis NON-BUGIS (Contoh Kalimat Bahasa Indonesia, ditulis menggunakan Aksara Bugis. Kalimat SAYA MAU MAKAN, sangat bisa ditulis dengan Konsonan. Pada Aksara tanpa konsonan, maka hanya tertulis SAYA MAU MAKA).
Catatan 2:
Ada beberapa huruf yang tidak ditemukan dalam Aksara Bugis seperti : f, q, v, x, z. Untuk menutur berbasis non-Bugis, silakan memakai Silabel yang kedengaran mendekati, atau sesuai kesepakatan umum. Misal: ZAMAN, secara suara bisa ditulis SAMAN, namun secara kebiasaan bisa ditulis JAMAN.
Ada beberapa huruf yang tidak ditemukan dalam Aksara Bugis seperti : f, q, v, x, z. Untuk menutur berbasis non-Bugis, silakan memakai Silabel yang kedengaran mendekati, atau sesuai kesepakatan umum. Misal: ZAMAN, secara suara bisa ditulis SAMAN, namun secara kebiasaan bisa ditulis JAMAN.

Sumber :
Rabu, 06 Januari 2016
Huruf Angka
Saat ini, kita tentu tidak asing dengan cara penulisan angka dengan menggunakan huruf. Yang paling sering kita temui dan tentu dipelajari secara umum di bangku sekolahan adalah Angka Romawi.
Angka romawi adalah sistem angka yang digunakan pada zaman Roma kuno.
Mereka menggunakan kombinasi huruf dari alfabet Latin untuk melambangkan
nilai-nilai yang berbeda. Mempelajari angka romawi dapat membantu Anda
membuat garis besar, memahami budaya Romawi kuno, dan menjadi lebih
berbudaya.
Tabel Angka Romawi adalah sebagai berikut :
Cara penulisan Bilangan Romawi :
1. Sistem pengulangan:
- Pengulangan dilakukan pling banyak 3 kali.
- Lambang bilangan Romawi yang dapat diulang adalah : I, X, C dan M.
- Lambang bilangan Romawi V, L dan D tidak boleh diulang.
- Lambang bilangan Romawi yang dapat diulang adalah : I, X, C dan M.
- Lambang bilangan Romawi V, L dan D tidak boleh diulang.
Contoh pengulangan:
- I = 1 C = 100
- II = 2 CC = 200
- III = 3 CCC = 300
- X = 10 M = 1000
- XX = 20 MM = 2000
- XXX= 30 MMM = 3000
2. Sistem Pengurangan :
Apabila bilangan Romawi yang di sebelah kiri lebih kecil daripada yagn sebelah kanannya, maka bilangan yang disebelah kanan dikurangi dengan bilangan yang di sebelah kirinya . Pengurangan ini hanya dapat dilakukan 1 kali.
Contoh :
IV = 5 – 1 = 4
IX = 10 – 1 = 9
XL = 50 – 10 = 40
XC = 100 – 10 = 90
CD = 500 – 100 = 400
CM= 1000 – 100 = 900
3.Sistem Penjumlahan
Apabila bilangan Romawi diikuti dengan bilangan Romawi yang sama atau lebih kecil, maka bilangan Romawi tersebut harus ditambahkan. Penjumlahan ini hanya dapat dilakukan paling banyak 3 angka.
Contoh :
- VI = 5 + 1 = 6
- VII = 5 + 2 = 7
- VIII = 5 + 3 = 8
- XI = 10 + 1 = 11
- XII = 10 + 2 = 12
- XIII = 10 + 3 = 13
- XV = 10 + 5 = 15
- XVI = 10 + 6 = 16
- LX = 60 + 10 = 60
- CL = 10 + 50 = 60
- DC = 500 + 100 = 600
- MD = 1000 + 500 = 1500
4. Sistem Gabungan :
Gabungan antara sistem pengurangan dan penjumlahan.
Contoh :
- XIV = 10 + (5-1) = 14
- CXLIV = 100 + (50-10) + (5-1) = 144
- CMXCVII = (1000 – 100) + (100 -10) + 7 = 997
Huruf Yunani sebagai leluhur huruf Latin juga mengenal sistem penomoran seperti itu, disebut sebaga akrofonik sistem.
Selain ini, Huruf Yunani juga mengenal sistem huruf-angka. Dalam huruf angka ini, Huruf Yunani juga menggunakan bentuk huruf arkais (bentuk kuno yang sudah tidak dipakai dalam Yunani standar). Daftarnya adalah sebagai berikut :
Dalam Abjad Ibrani / Hebrew juga dikenal sistem huruf-angka seperti ini. Dalam Abjad Ibrani, sistem ini disebut dengan Gematria. Ada banyak macam gematria, namun secara standar adalah sebagai berikut :
Abjad Arab merupakan generasi Abjad Semit yang diturunkan melalui Abjad Nabatea (Nevayot). Sebagaimana saudaranya yaitu huruf Siria, Abjad Arab juga merupakan bentuk kursif dari Abjad Nabatea, dimana memiliki bentuk yang berbeda saat berada di tengah dan akhir dari sebuah kata.
Sama seperti saudara-saudaranya, baik Abjad Ibrani, Arab maupun Siria, dalam beberapa huruf memang memiliki pengucapan ganda. Di masa kini, tanda titik atau strip berfungsi untuk menjadi pembeda dalam ucapan yang berbeda tersebut. Untuk mempermudah pembelajaran, Abjad Arab biasanya diurutkan berdasarkan kemiripan bentuk huruf (a, ba, ta, tsa). Perhatikan baik-baik perbandingan susunan Abjad Arab berikut ini :
Susunan Abjad Arab (abjadun), merupakan susunan huruf yang sangat mirip dengan Abjad Semitik yang lain. Perbedaannya hanyalah pada tambahan beberapa Huruf dibagian belakang, yang memang merupakan pengucapan ganda pada Abjad Arab (saat ini sudah dibedakan dengan pemberian tanda titik, sehingga lebih memudahkan). Perhatikan baik-baik perbandingan-nya dengan Abjad Ibrani :
Sama halnya dengan saudara-saudaranya, Abjad Arab juga mengenal Kaidah Abjadiyyah atau Huruf-Angka yang digunakan dalam Ilmu Hikmah.
Susunan Abjad Arab ini bisa dihafal dengan bacaan : Abjadun hawazun hathoya kalamanun sa'a-fa shun qorosyun ta tsa kho dzun dlo zho ghun.
Sumber :
omniglot.com
rasasejati.org (rasasejati.wordpress.com)
(luluyangmaniz.blogspot.co.id & amizhou.blogspot.co.id)
bocahangonantibledeg.blogspot.co.id
ibumega.blogspot.com
http://archive.kaskus.co.id/thread/3014211/
http://id.wikihow.com/Mempelajari-Angka-Romawi
Kamis, 31 Desember 2015
Sejarah Kalender Masehi
Hari ini adalah hari terakhir menurut Kalender Internasional (Bangsa kita menyebutnya Kalender Masehi). Dan pas sekali dengan malam "Jumat Kliwon". Meskipun di luar sana banyak pro dan kontra tentang perayaan malam tahun baru ini. Kita disini lebih baik melihat sepintas lalu tentang sejarah Sistem Penanggalan ini dari masa ke masa.
Kalender “Masehi” merupakan kalender paling populer di antero bumi, oleh
karena itu semua perhitungan penanggalan sejarah dunia, acuannya adalah
tahun “0” Masehi. Kita menyebutnya Masehi karena kita berpikir ini ada sangkut pautnya dengan "Al-Masih", padahal
asal-muasalnya tidak ada sangkut-paut dengan peristiwa “sejarah hidup”
Isa Al-Masih (Yesus Kristus / Yeshua MaMashiach). Bahkan nama-nama
bulannya adalah istilah-istilah “ketuhanan” dalam kebudayaan Romawi dan Yunani.
Untuk membedahnya kita bagi dalam 3 Fase sejarah:
(I) Kalender Julian
(II) Masa Transisi
(III) Kalender
Gregorian
I. Kalender Julian
I. Kalender Julian
Julius Caesar
adalah Penguasa Romawi yang sangat fenomenal, hal itu terbukti nama
belakangnya indentik dengan kekuasaan yaitu “Caesar”, sehingga nama
tersebut menjadi gelar sebutan “Penguasa Romawi”. Maka untuk melihat
dengan runut, kita harus kilas balik ke belakang tentang Kekuasaan
(Kekaisaran) Roma.
A. Romulus, pendiri kota Roma; adalah saudara kembar Romus (mati di bunuh). Mereka ini adalah anak Mart si Dewa Perang yang kawin dengan manusia dan dibesarkan oleh seekor anjing hutan betina. Sebagai Penguasa (Kaisar) Roma lalu membuat Kalender dengan cara menjiplak Kalender Mesir apa adanya, dan hanya mengganti nama bulannya saja:
1. Mart (Nama ayahnya sebagai bulan pertama, 30 hari).
2. Aprilis (29 hari).
3. Meius (Dewi Maya, 30 hari).
4. Junius (Juno=Dewi Bulan, 29 hari).
5. Quintilis (Ratu / Penguasa, 30 hari).
6. Sestilis (Ses=Enam, 29 hari).
7. Septembre (Septo=Tujuh, 30 hari).
8. Oktobre (Oktav=Delapan, 29 hari).
9. Novembre (Nova=Sembilan, 30 hari).
10. Decembre (Deca=Sepuluh, 29 hari).
Maka dalam setahun berjumlah 304 hari.
B. Numa, Kaisar ini mengamati kalender Romulus dirasa kurang cocok berkenaan dengan musim, maka dia menambahkan dua masa sebagai bulan ke 11 dan 12, yaitu:
11. Januarius (Janus=Dewa bermuka dua, mulai datangnya musim salju, 30 hari).
12. Februarius (Febro=Dewa Kematian, 29 hari, puncak musim salju dan tanaman yang bertahan hidup adalah “rumpun” cemara).
Maka dalam setahun berjumlah 355 hari.
C. Julius Caesar (sekitar tahun 46 Sebelum “Masehi”), membuat perombakan frontal, Nama dirinya dimasukkan dalam kelender menggantikan bulan Quintilis (Ratu / Penguasa). Kebesaran Dewa Mart di geser, Dewa Bermuka Dua Si Janus ditaruh pada tempat terhormat, yaitu bulan pertama. Karena dalam setiap lintasan tahun yang memegang kendali adalah Dewa yang bisa melihat masa depan dengan tetap mempertimbangan masa lalu, yaitu Janus. Tahun baru adalah sesuatu yang senantiasa diharap-harap dan dinantikan, sebagai pintu gerbang rahasia nasib, akhirnya dalam urutan bulan terjadi perubahan :
1. Januarius ( 31 hari).
2. Februarius (29 / 30 hari).
3. Mart (30 hari).
4. Aprilis (30 hari).
5. Meius (31 hari).
6. Junius (31 hari).
7. Julius (31 hari).
8. Sestilis ( Ses=Enam, 30 hari).
9. Septembre (Septo=Tujuh, 30 hari).
10. Oktobre (Oktav=Delapan, 30 hari).
11. Novembre (Nova=Sembilan, 31 hari).
12. Decembre (Deca=Sepuluh, 30 hari).
Maka dalam setahun menjadi 364 / 365 hari.
D. Agustus (keponakan Julius Caesar), juga melakukan perubahan tapi tidak begitu berarti: hanya nama dirinya dimasukkan, menggantikan nama bulan Sestilis.
Akhirnya kalender ini terkenal dengan Kalender Julian, Kesakralan Julius terhadap Pribadi Janus Dewa Bermuka Dua sangat diutamakan.
Umat Kristiani, pada malam tahun baru biasanya melakukan ibadah penutupan dan pembukaan tahun. Mereka biasanya juga membuat semacam undian yang berisi petikan ayat Alkitab, dimana mereka akan mengambil satu persatu dengan "iman".
II. Masa Transisi.
Pada saat kekristenan menjadi populer di wilayah kekuasaan Romawi, atas Perintah Justinian Sang Penguasa, Rahib (Pendeta) Dionysius Exiguus disuruh me”nera” kapan Mesias lahir, dan tanggal tersebut akan dinyatakan sebagai tahun “0” sebagai perhitungan awal kalender Sang Mesias. Maka saat itulah dinyatakan sebagai tahun 526 Masehi, karena waktu itu berdasarkan perhitungan Sang Rahib adalah tahun 753 Julian.
Kalender produk Rahib Dionysius terlajur dipublikasikan,
ternyata ada kesalahan dalam perhitungan, lalu ada yang menghitung ulang
“bahwa pada tahun tersebut dalam kalender Julian adalah tahun 749”.
Akhirnya perhitungan yang dipercaya sampai sekarang adalah Isa Al-Masih (Yesus Kristus / Yeshua HaMashiach) lahir pada Tahun 4 Sebelum Masehi, bukan tahun “0”.
III. Kalender Gregorius
III. Kalender Gregorius
Tahun 1582 Masehi, Paus Gregorius membuat “gebrakan” yang
spekatuler, Format Kalender Julian (Julius Caesar) yang diabadikan oleh
Rahib Dionysius, perhitungan jumlah hari dalam setiap bulan diperbaharui
berdasarkan “Ilmu Alam.”
Bulan Ke 10 yaitu: hari kamis tanggal 4
Oktober lalu besoknya tetap hari jum’at, tapi tanggalnya 15 Oktober.
Jadi dalam sejarah tidak pernah ada tanggal 5-14 Oktober 1582. (The
Standart Dictionary, cetakan 1907”, Universal Calendar for every year of
the Christian era”).
Sehingga menjadi seperti berikut:
1. Januari (31 hari).
2. Februari (biasa 28 hari / kabisat 29 hari).
3. Mart (31 hari).
4. April (30 hari).
5. Mei (31 hari).
6. Juni (30 hari).
7. Juli (31 hari).
8. Agustus (31 hari).
9. September (30 hari).
10. Oktober (31 hari).
11. November (30 hari).
12. Desember (31 hari).
1. Januari (31 hari).
2. Februari (biasa 28 hari / kabisat 29 hari).
3. Mart (31 hari).
4. April (30 hari).
5. Mei (31 hari).
6. Juni (30 hari).
7. Juli (31 hari).
8. Agustus (31 hari).
9. September (30 hari).
10. Oktober (31 hari).
11. November (30 hari).
12. Desember (31 hari).
Kalender
inilah yang dipakai sampai sekarang, oleh karena itu biasa disebut
Kalender Gregorian karena produk Paus Gregorius, ada yang menyebut
kalender Masehi karena produk rohaniwan “gereja” yang identik dengan
kristiani atau mengacu pada arah tanggal kelahirannya
Sang Mesias / Al-Masih.
Mengenai tanggal kelahiran Sang Mesias / Al-Masih dalam lingkungan intern Umat Kristiani, perayaan Natal baru dimulai pada sekitar tahun 200 M di Aleksandria
(Mesir). Para teolog Mesir menunjuk tanggal 20 Mei tetapi ada pula pada
19 atau 20 April. Di tempat-tempat lain perayaan dilakukan pada tangal 5
atau 6 Januari; ada pula pada bulan Desember. Perayaan pada tanggal 25
Desember dimulai pada tahun 221 oleh Sextus Julius Africanus, dan baru
diterima secara luas pada abad ke-5.
Ada berbagai perayaan keagamaan
dalam masyarakat non-Kristiani pada bulan Desember. Dewasa ini umum
diterima bahwa perayaan Natal pada tanggal 25 Desember adalah penerimaan
ke dalam gereja tradisi perayaan non-Kristen terhadap (dewa) matahari: Solar Invicti (Surya tak Terkalahkan), dengan menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Sang Surya Agung itu sesuai berita Alkitab.
Beberapa hari yang lalu (tanggal 25 Desember), Umat Kristiani merayakan hari Natal sesuai dengan Kalender Gregorian. Dan nanti sekitar tanggal 6/7 Januari, Umat Kristen Ortodok baru merayakan Natal (menurut perhitungan kalender Julian).
Dengan melihat sejarah ini, kita bisa melihat asimilasi dan akulturasi budaya dalam Kekristenan sebagaimana asimilasi dan akulturasi budaya yang terjadi dalam masyarakat Jawa.
www.alfa-omega.or.id
https://en.wikipedia.org/wiki/Calendar
https://en.wikipedia.org/wiki/Christmas
Selasa, 29 Desember 2015
Mengenal Aksara Incoung Kerinci Versi William Marsden
Hingga saat
ini, penelitian dan penggalian tentang Surat Incoung Kerinci belumlah
tuntas, sehingga belum ada yang bisa dijadikan standar atau bentuk baku
dari Surat Incoung. Oleh karena itu mari kita tinjau kembali penelitian
terdahulu tentang Surat Incoung ini.
Surat Incoung adalah aksara kuno yang dipergunakan oleh sekelompok etnis Suku Kerinci yang berada di sebelah barat Propinsi Jambi, yang berbatasan dengan Propinsi Bengkulu dan Sumatra Barat. Wilayah pemakai aksara ini sekarang meliputi Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh (Pemekaran Kabupaten Kerinci).
Di Kerinci aksara ini dikenal dengan nama Surat Incoung. Sebenarnya ada banyak cara penyebutan untuk aksara ini, tergantung dialek masing-masing kelompok subetnis di Kerinci, diantaranya “Incong”, “Incung”, “Incoung”, “Incaung”, dan “Inceung”. Perlu di ketahui bahwa bahasa Kerinci termasuk kelompok bahasa Melayu Sumatera Tengah, namun mempunyai keunikan tersendiri karena memiliki sangat banyak variasi hingga lebih dari 100 macam dialek, walau hanya dalam satu kabupaten saja. Penyebutan ‘aksara” pun juga tidak lazim di sini, tetapi disebut dengan ‘Surat’. Jadi defenisi ‘surat’ disini sama dengan defenisi ‘letter’ dalam bahasa Inggris yang bermakna ganda yaitu ‘huruf’ dan ‘surat/naskah’.
Surat Incoung diperkirakan sudah dipergunakan sejak zaman kerajaan Sriwijaya dan tidak dipergunakan lagi sejak pertengahan abad ke-19, sejalan dengan pesatnya perkembangan agama Islam dan makin luasnya penggunaan aksara Jawi di Kerinci. Pada tahun 1835, William Marsden, seorang Inggris yang pernah bekerja di EIC dan ditempatkan di Bengkulu, juga pernah meneliti dan menuliskan tentang aksara ini dalam “On the Polynesian, or East insular Languages” (Miscellaneous Works of William Marsden, 1835). Setelah itu tidak ada lagi penelitian lanjutan tentang aksara ini, dan penggunaan aksara ini kemudian mulai ditinggalkan oleh orang Kerinci sehingga sempat dianggap punah, dan sudah terlupakan serta tidak ada lagi yang bisa membacanya, hingga akhirnya misteri tsb berhasil dipecahkan kembali oleh L.C. Westenenk pada tahun 1922.
Menurut tulisan William Marsden tersebut, aksara Kerinci ini diperoleh atau dipelajarinya dari seorang guru pribumi (asal Kerinci ?). Tulisan tersebut juga disertai plat gambar berisi Susunan aksara (Alphasilabari) Kerinci yang terdiri dari 29 aksara atau surat. Namun Berbeda dengan Aksara Rejang atau aksara Rencong lainnya, urutannya tidak sesuai sebagaimana kelaziman aksara turunan India yang dimulai dengan urutan Ka, ga, nga, dst, tetapi dimulai dengan Ta, na, sa, dst. Hanya saja dalam alphasilabari tsb tidak terdapat aksara /da/ dan /mba/. Tidak diketahui apa sebabnya hal ini terjadi, apakah sang guru pribumi tsb tdk mengetahuinya ataukah karena alasan lainnya.
Namun dari informasi singkat yang ditulis William Marsden ini, terdapat beberapa hal yang selama ini tidak/jarang diketahui oleh masyarakat banyak, termasuk oleh L. C. Westenenk (1922) yang juga pernah membuat format baru Alphasilabari Surat Incoung ini dengan urutan Ka Ga Nga sebagaimana aksara Rejang maupun aksara Rencong lainnya. Diantaranya adalah adanya dikenalkan beberapa karakter surat yang termasuk kategori jarang digunakan, tetapi ternyata memang ada dan dipergunakan dalam sebagian naskah kuno Surat Incoung. Aksara atau surat tersebut antara lain /Aha/, /Hia/ dan /Hha/.
Sumber :
Jumat, 18 Desember 2015
Bima (Nggahi Mbojo)
Bima, or Bimanese, is a Malayo-Polynesian language spoken in the
eastern half of Sumbawa Island in Indonesia by about 500,000 people.
It is closely related to the languages of Sumba Island.
Bima alphabet (Aksara Bima / Aksara Mbojo)
The Bima(nese) script is used to write Bima, and is related to the Buginese script. This script has been used since the 14th century, and was used to write books and royal records in the Bima Kingdom. During the 17th century, when the Bima people became Muslim, they started using Malay written with the Arabic script.
The research on Bimanese Literacy was initiated by Hj. Siti Maryam R
Salahuddin, a princess of the last Sultan of Bima. The research started
from the time that she founded the Bimanese script in a record by Zollinger
(1850) and a record by Raffless (1978) which were obtained from the
Perpustakaan Nasional RI (Indonesian National Library) in Jakarta
in 1987. In 1990-1991 a study was conducted to describe the content of a
copy of a palm-leaf manuscript from Leiden which bought by J. Noorduyn,
a Professor of Buginese language from Leiden University, based on those
script records. A team was formed to continue the research consisting
of Hj. Siti Maryam, Syukri Abubakar, and Munawar Sulaiman. The wrote about
their findings in a book entitled "Aksara Bima, peradaban lokal yang sempat
hilang" (Bimanese Script, a local civilization that had disappeared).
Notable features
- Type of writing system: Abugida - each consonant (aksara) has an inherent vowel. Other vowels can be indicated using diacritics which appear above, below, before or after the consonant letter
- Direction of writing: right to left in horizontal lines.
- Used to write: Bima(nese)
Main characters
Vowels
Nasalization
There are some nasal sounds in the Bima language. Some of them have
their own letter: mpa, nca, nta, nga, while others can become nasal
depending on the context of the sentence: mba -> ba; nda -> da; ngga -> ga.
The consonants Q, V, X, and Z do not exist in the Bimanese script and are
replaced by those with a similar sound.
- Q -> K
- V -> F
- X -> (Bimanese possibly has no words which use this consonant)
- Z -> J
Diacritics
- The repeat sign, which is like the Arabic numeral "two" (Ù¢) indicates that a word is read twice.
- The virama can be appear above or below a letter.
Sample text
Transliteration
Dowu ma pertama mabade warana aksara mbojo ededu putri Maryam R
Salahuddin deyi salelana kertas ma tunti kayi aksara mbojo mamayi ta dowu Belanda.
Translation
The first person who knew about the existence of Bimanese script was
princess Maryam R Salahuddin from a record written in Bimanese script
by a Dutch researcher.
Information mainly supplied by Ridwan Maulana
Information about Bima
Information about Bima
Minggu, 13 Desember 2015
Mengenal Aksara Incoung Kerinci Versi L. C. Westenenk
Semenjak dipublikasikannya tulisan tentang Surat Incoung pertama kali oleh William Marsden pada tahun 1834, setelah itu boleh dikatakan tidak ada lagi penelitian selanjutnya hingga akhirnya muncul tulisan L. C. Westenenk yang berjudul "Rèntjong-schrift II: beschreven hoorns in het landschap Krintji" dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-, en Volkenkunde 61 (1922).
Penelitian Westenek ini mengacu kepada salinan beberapa naskah yang dibuat oleh Edward Jacobson, seorang naturalis yang pada tahun 1915 mengadakan penelitian di Kerinci. Disela-sela waktu penelitian tentang alamnya, Jacobson mendapat informasi bahwa di Kerinci terdapat banyak pusaka-pusaka masyarakat lokal berupa naskah-naskah beraksara kuno dimana sudah tidak ada lagi yang bisa membacanya. Akhirnya Jacobson berhasil membujuk pemilik naskah-naskah tersebut dan menyalinnya dengan menjanjikan bahwa masih ada orang yang bisa membacanya. Alhasil terkumpullah sebanyak 27 salinan naskah kuno Kerinci beraksara incoung dari berbagai wilayah Mendapo (Nama pemerintahan/wilayah adat setingkat Kecamatan) di Kerinci.
Pada kenyataannya, Jacobson sudah berupaya untuk membaca salinan naskah-naskah beraksara incoung tersebut, akan tetapi tidak berhasil. Akhirnya Jocobson meminta bantuan seorang temannya, L. C. Westenenk yang pada saat itu menjabat sebagai Residen Bengkulu, untuk membantu memecahkan misteri salinan naskah beraksara incoung tersebut. Westenenk sendiri tidak pernah ke Kerinci, meskipun sempat berencana melakukan penelitian lebih lanjut ke Kerinci, namun karena kesibukannya rencana tersebut tidak terlaksana.
Dengan berbekal pengalaman sebelumnya yang pernah mentransliterasikan naskah Rencong dari daerah Lubuk Blimbing di Bengkulu pada tahun 1919, dan telah dipublikasikan dengan judul "Aanteekeningen omtrent het hoornopschrift van Loeboek Blimbing (Benkoelen)", Westenenk mempelajari salinan naskah yang diberikan oleh Jacobson, dan akhirnya dia berhasil mentransliterasikan naskah-naskah tersebut dengan memperbandingkan Surat Incoung Kerinci dengan Surat Rencong di Bengkulu.
Dalam tulisan Rèntjong-schrift II tersebut, Westenenk juga membuat daftar susunan Surat Incoung tersebut sebagaimana urutan aksara Rejang yang dimulai dengan aksara Ka, Ga, Nga, dst., yang semuanya berjumlah 28 aksara, dimana beberapa diantaranya terdapat beberapa varian hingga 3 macam. Diakritik untuk bunyi vokal ada 2 yaitu tanda untuk merubah bunyi vokal ‘a’ dibelakang bunyi konsonan suatu aksara (silaba) menjadi bunyi vokal ‘i’ dan ‘u’, serta terdapat 3 diakritik lainnya untuk ‘h’, ‘ng’, dan tanda bunuh. Selain itu juga dilengkapi dengan beberapa contoh aplikasi tulisan atau kata yang ditulis dengan aksara incoung beserta transliterasi huruf latinnya..
Meskipun Westenenk mengkritisi dan menyalahkan susunan abjad/Alpha Silabari dan beberapa karakter Surat Incoung yang dibuat William Marsden (1834), tetapi hal ini ditanggapi oleh Petrus Voorhoeve (1941) bahwa versi Marsden tersebut tidaklah terlalu banyak salah sebagaimana yang disangkakan oleh Westenenk, karena apa yang ditulis oleh Marsden lebih banyak merupakan karakter surat incoung yang ditulis pada naskah bambu, sedangkan versi Westenenk lebih banyak berdasarkan karakter/aksara pada naskah tanduk. Westenenk juga berkesimpulan bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu dialek Minangkabau. Mungkin Westenenk mengacu kepada tulisan-tulisan pada masa itu yang banyak mengelompokkan etnis Kerinci kepada kelompok Minangkabau.
Jika dibandingkan dengan Surat Incoung versi William Marsden (1934), terdapat perbedaan jumlah aksara, dimana pada versi Westenenk berjumlah 28 aksara tetapi tidak terdapat aksara /a.ha/, /hia/ dan /hha/, sedangan pada versi Marsden berjumlah 29 aksara tetapi tidak terdapat aksara /da/ dan /mba/.
Pada saat ini, Surat Incoung versi Westenenk ini lebih popular dan terkesan telah menjadi bentuk baku untuk formulasi Surat Incoung. Diantaranya juga dimuat dalam bagian akhir Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV dan dalam beberapa tulisan ilmiah lainnya. Padahal masih banyak yang harus dikoreksi lagi, terutama berkaitan dengan jumlah aksara dan kebenaran atau ketepatan karakter/aksaranya, bahasa yang digunakan serta kajian-kajian filologi lainnya.
Sumber :
Langganan:
Postingan (Atom)




































