Rabu, 21 Januari 2015

Rumus Maju Mundurnya Bibir

Dalam tata penulisan lama, beberapa aksara mengalami perubahan bentuk menjadi Mahaprana saat vokal yang mengikutinya berbeda-beda tergantung pada aksara yang mengikutinya.
 
Berikut sekilas tentang rumus "maju munduring lambe" (maju mundurnya bibir).

 
Merah = Lambe Maju
 
Biru = Lambe Mundur

Huruf E :
Ê = Seperti pada kata : Pelem, Kelapa, Kepala
É = Seperti pada kata : Kene, Enak
È = Seperti pada kata : Gethek, Ketek, Tetek

Dalam rumus di atas membahas tentang aksara MA (ꦩ) bertemu NA (ꦤ) jika masih ada dalam satu kata.
 
Contoh Pertama di atas :
 
Mu + Ni = U ke I (arah mundur) = Na akan ditulis dengan NA Mahaprana (ꦩꦸꦟꦶ)
 
Ma + Nu = A ke U (arah maju) = Na tetap ditulis dengan NA biasa (ꦩꦤꦸ)
 

Ya / La / Wa + Sa / Na

Hitam = Sejajar

Merah = Mundur

Biru = Maju 


Huruf Bibir (Aksara Lambe) = Pa, Ba, Ma, Wa bertemu Na


Huruf Ka, Ga, Nga bertemu Na

Mundur = Na Mahaprana (Murda)

Maju = Na Legena (Na Biasa)




Huruf Ka, Ga, Nga bertemu Sa

Mundur = Sa Puspa (ꦰ)

Maju = Sa Legena (Na Biasa)



Sumber :
Grup Sinau Aksara Jawa & Sinau Nulis Jawa

Jumat, 09 Januari 2015

Aksara NGA & Sandhangan Cecak (Sigegan NG)




Sandangan cecak digunakan untuk menuliskan sigegan ng (sepasang konsonan nga di akhir suku kata). Ada tiga buah kondisi dalam menuliskan sandangan cecak, yakni :
  • Sandangan cecak ditulis di atas aksara. Sandangan cecak dituliskan menurut aturan ini bila menemui keadaan aksara yang diikuti tidak memiliki sandangan di atas aksara selain dirinya.
  • Sandangan cecak ditulis di atas aksara belakang sandangan wulu. Apa bila sandangan cecak mengikuti sandangan wulu, maka sandangan cecak dituliskan di belakang sandangan wulu.
  • Sandangan cecak ditulis di atas aksara di dalam pepet. Sandangan cecak (  ꦁ) apabila mengikuti sandangan pepet (   ꦼ), maka penulisan cecak di taruh di dalam sandangan pepet. Dalam keadaan ini kedua sandangan penulisannya adalah sebagai berikut : (      ꦼꦁ).











Biru : Sastra Lampah
Hitam : Mardi Kawi
Merah : Sriwedari & KBJ

Sumber :
Wikipedia Aksara Jawa
Grup Sinau Aksara Jawa
Grup Sinau Nulis Jawa
 

Rabu, 07 Januari 2015

Aksara RA


















Sumber :
Grup Sinau Aksara Jawa & Grup Sinau Nulis Jawa
Serat Mardikawi

Klasifikasi Carakan Jawa Menurut Panini


Angka dan Tandha Baca

Angka Jawa:

Sistem angka Jawa mempunyai numeralnya sendiri, yang hanya terdiri dari angka 0 – 9 sebagai berikut:


Lebih dari separuh angka Jawa memiliki bentuk yang mirip dengan karakter silabel Jawa, yaitu :
1 dengan ga, 
2 dengan nga lelet, 
6 dengan Aksara Swara E 
7 dengan la 
8 dengan pa murda / Pha Mahaprana
9 dengan ya 

Untuk menghindari kerancuan, angka yang muncul dalam teks diapit dengan penanda angka yang disebut pada pangkat (bentuk seperti pengapit angka pada gambar di atas).

Misal, "Selasa 19 Maret 2013" ditulis dengan mengapit angka dengan pada pangkat supaya tidak dibaca "Selasa gaya Maret 2013"

ꦱꦼꦭꦱ꧇꧑꧙꧇ꦩꦉꦠ꧀꧇꧒꧐꧑꧓꧇

Untuk menulis angka yang lebih besar dari 9, gabungkan dua angka atau lebih di atas seperti halnya angka Arab. 

Misal, 21 ditulis dengan menggabungkan 2 dan 1. ꧇꧒꧑꧇

Terkadang, pada lungsi digunakan sebagai penanda angka. 

Dewasa ini angka Jawa hampir selalu digantikan dengan angka Arab untuk menghindari kemiripan dan mempermudah penghitungan matematika.

Tandha Baca Jawa

Dalam aksara Jawa, tanda baca yang tersedia hanya koma, titik, dan pengapit (berfungsi sebagai tanda kurung atau tanda petik, dengan perbedaan aturan penulisan). Dibanding dengan alfabet Latin, aksara Jawa tidak memiliki tanda seru, tanda tanya, tanda hubung, garis miring, titik dua, titik koma, petik tunggal maupun simbol-simbol matematika umum, seperti tambah, kurang, sama dengan. Namun aksara Jawa memiliki tanda baca-tanda baca khusus yang tidak terdapat dalam sistem penulisan lainnya.

Secara sederhana, tanda baca dapat dibedakan menjadi dua: umum dan khusus. Tanda baca umum digunakan di penulisan biasa, sementara tanda baca khusus digunakan dalam penulisan karya sastra (puisi, dll.)
 

  


^1 Terdapat dua peraturan khusus mengenai penggunaan koma.
a. Koma tidak ditulis setelah kata yang berujung pangkon. 
b. Koma menjadi titik apabila tetap ditulis setelah pangkon.
^2 Lihat aksara numeral di atas.
^3 Fungsinya mirip seperti simbol 2 atau 2 dalam ortografi bahasa Indonesia lama yang menandakan kata berulang, misal pada kata "orang2" (orang-orang). Karakter ini pada dasarnya adalah angka Arab dua (٢), namun tidak memiliki fungsi angka dalam aksara Jawa. Karakter tersebut diproposalkan sebagai karakter independen karena sifat dwi-arah angka Arab.
^4 Tanda baca khusus memiliki banyak varian karena sifatnya yang ornamental, dihias berdasarkan selera dan kemampuan penulis.



Sumber :
Wikipedia & Internet
Grup Sinau Nulis Jawa (Mas Aditya Bayu) 

Aksara SA, SHA & SYA - II


= = = = =


 = = = = =


= = = = =



= = = = =





= = = = =
 

= = = = =



= = = = =
 

= = = = =

Sumber :
Grup Sinau Aksara Jawa & Sinau Nulis Jawa

Selasa, 06 Januari 2015

Tanda Vokal dan Khusus dalam Aksara Jawa

Sandhangan adalah sejenis aksara yang tidak dapat berdiri sendiri, melainkan merupakan tanda diakritik yang selalu digunakan bersama dengan aksara dasar. Ada tiga macam sandhangan, yaitu sandhangan suara yang berfungsi untuk mengubah vokal huruf dasar, layaknya harakat pada abjad Arab, sandhangan sesigeg (sandhangan akhir suku kata), dan sandhangan wyanjana (sandhangan tengah suku kata).

Sandhangan yang sering kita temui dan pelajari adalah sebagai berikut :


Memang benar demikian adanya, tapi sebenarnya daftar di atas masih kurang lengkap, seandainya jika hanya tanda di atas yang kita miliki, aksara kita benar-benar akan sangat terbatas untuk menuliskan bunyi vokal baru yang kita temui misalnya untuk menuliskan diftong.

Tapi kita bisa syukur meski telah lama tersembunyi, kita masih bisa menemukan bunyi vokal yang sudah lama tidak terpakai itu.

Coba perhatikan daftar di bawah ini dan cobalah hitung berapa tanda yang belum pernah kita pelajari di sekolahan dulu.


Vokal


Perhatikan baik-baik, bahkan kita memiliki vokal panjang dan pendek, selama ini kita bahkan tidak tahu kalau tarung juga memiliki fungsi yang lain. Perhatikan juga kalau Aksara Swara A (A Asli) bisa diberi sandhangan swara untuk membentuk Vokal baru.



Bahkan ada tanda khusus (tolong/panolong) yang bisa dipakai untuk menuliskan vokal EU dalam bahasa Sundha.


Disini tidak akan diuraikan secara detil bagaimana penggunaan dan fungsi masing-masing tanda, namun daftar yang lengkap akan membuat wawasan kita semakin terbuka, bahwa kenyataannya aksara kita tidak hanya seperti yang selama ini kita ketahui, namun memiliki cakupan yang lebih luas, detil dan lengkap.





Javanenglish "SMILE" / SMAIL (^_^)



















Anda ingin menulis Bahasa Arab pake Aksara Jawa?? Ah bisa diatur itu :


Contoh :


Sumber :
Omniglot.Com, Google, Wikipedia.com
Grup Sinau Aksara Jawa & Sinau Nulis Jawa
Serat Mardikawi Jilid III W.J.S. Purwadarminta 1930