Rabu, 07 Januari 2015

Angka dan Tandha Baca

Angka Jawa:

Sistem angka Jawa mempunyai numeralnya sendiri, yang hanya terdiri dari angka 0 – 9 sebagai berikut:


Lebih dari separuh angka Jawa memiliki bentuk yang mirip dengan karakter silabel Jawa, yaitu :
1 dengan ga
2 dengan nga lelet
6 dengan Aksara Swara E 
7 dengan la 
8 dengan pa murda / Pha Mahaprana
9 dengan ya 

Untuk menghindari kerancuan, angka yang muncul dalam teks diapit dengan penanda angka yang disebut pada pangkat (bentuk seperti pengapit angka pada gambar di atas).

Misal, "Selasa 19 Maret 2013" ditulis dengan mengapit angka dengan pada pangkat supaya tidak dibaca "Selasa gaya Maret 2013"

ꦱꦼꦭꦱ꧇꧑꧙꧇ꦩꦉꦠ꧀꧇꧒꧐꧑꧓꧇

Untuk menulis angka yang lebih besar dari 9, gabungkan dua angka atau lebih di atas seperti halnya angka Arab. 

Misal, 21 ditulis dengan menggabungkan 2 dan 1. ꧇꧒꧑꧇

Terkadang, pada lungsi digunakan sebagai penanda angka. 

Dewasa ini angka Jawa hampir selalu digantikan dengan angka Arab untuk menghindari kemiripan dan mempermudah penghitungan matematika.

Tandha Baca Jawa

Dalam aksara Jawa, tanda baca yang tersedia hanya koma, titik, dan pengapit (berfungsi sebagai tanda kurung atau tanda petik, dengan perbedaan aturan penulisan). Dibanding dengan alfabet Latin, aksara Jawa tidak memiliki tanda seru, tanda tanya, tanda hubung, garis miring, titik dua, titik koma, petik tunggal maupun simbol-simbol matematika umum, seperti tambah, kurang, sama dengan. Namun aksara Jawa memiliki tanda baca-tanda baca khusus yang tidak terdapat dalam sistem penulisan lainnya.

Secara sederhana, tanda baca dapat dibedakan menjadi dua: umum dan khusus. Tanda baca umum digunakan di penulisan biasa, sementara tanda baca khusus digunakan dalam penulisan karya sastra (puisi, dll.)
 

  


^1 Terdapat dua peraturan khusus mengenai penggunaan koma.
a. Koma tidak ditulis setelah kata yang berujung pangkon. 
b. Koma menjadi titik apabila tetap ditulis setelah pangkon.
^2 Lihat aksara numeral di atas.
^3 Fungsinya mirip seperti simbol 2 atau 2 dalam ortografi bahasa Indonesia lama yang menandakan kata berulang, misal pada kata "orang2" (orang-orang). Karakter ini pada dasarnya adalah angka Arab dua (٢), namun tidak memiliki fungsi angka dalam aksara Jawa. Karakter tersebut diproposalkan sebagai karakter independen karena sifat dwi-arah angka Arab.
^4 Tanda baca khusus memiliki banyak varian karena sifatnya yang ornamental, dihias berdasarkan selera dan kemampuan penulis.



Sumber :
Wikipedia & Internet
Grup Sinau Nulis Jawa (Mas Aditya Bayu) 

3 komentar: