Senin, 13 April 2015

Bahasa Jawa Malang


Dialek Malang atau biasa disebut dialek Malangan, dialek Ngalaman dan Boso Walikan (Osob Kiwalan) adalah sebuah dialek Jawa yang dituturkan di Malang. Dialek ini hanya membalikkan posisi huruf pada kosakata bahasa Jawa ataupun bahasa Indonesia pada umumnya, kecuali pada konsonan rangkap, afiks, dan gabungan suku kata yang tidak memungkinkan bisa dibalik.

Sejarah

Sejarah Boso Walikan berasal dari pemikiran para pejuang tempo doeloe yaitu kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK). Bahasa khusus ini dianggap perlu untuk menjamin kerahasiaan, efektifitas komunikasi sesama pejuang selain juga sebagai pengenal identitas kawan atau lawan. Metode pengenalan ini sangat penting karena pada masa Clash II perang kemerdekaan sekitar akhir Maret 1949 Belanda banyak menyusupkan mata-mata di dalam kelompok pejuang Malang. Mata-mata ini banyak yang mampu berkomunikasi dalam bahasa daerah dengan tujuan menyerap informasi dari kalangan pejuang GRK. penyusupan ini terutama untuk memburu sisa laskar Mayor Hamid Rusdi yang gugur pada 8 Maret 1949 dalam pertempuran dukuh Sekarputih (sekarang Wonokoyo).

Seorang tokoh pejuang Malang pada saat itu yaitu Suyudi Raharno mempunyai gagasan untuk menciptakan bahasa baru bagi sesama pejuang sehingga dapat menjadi suatu identitas tersendiri sekaligus menjaga keamanan informasi. Bahasa tersebut haruslah lebih kaya dari kode dan sandi serta tidak terikat pada aturan tata bahasa baik itu bahasa nasional, bahasa daerah (Jawa, Madura, Arab, Cina) maupun mengikuti istilah yang umum dan baku. Bahasa campuran tersebut hanya mengenal satu cara baik pengucapan maupun penulisan yaitu secara terbalik dari belakang dibaca kedepan.

Pada saat itu, banyak sekali mata-mata Belanda yang berasal dari orang pribumi sendiri. Otomatis, komunikasi dalam Bahasa Jawa menjadi hal yang riskan karena para mata-mata itu juga pasti akan paham lantas akan membocorkannya pada pihak Belanda. Karena itu para pejuang menggunakan boso walikan untuk mengelabui para mata-mata sekaligus untuk meminimalisir bocornya strategi perjuangan para gerilyawan.

Karena keakraban dan pergaulan sehari-hari maka para pejuang dalam waktu singkat dapat fasih menguasai 'bahas' baru ini. Sedangkan lawan dan para penyusup yang tidak setiap hari bergaul dengan sendirinya akan kebingungan dan selalu ketinggalan istilah2 baru. Maka siapapun yang tidak fasih mempergunakan osob AREMA ini pasti bukan dari golongan pejuang dan pendukungnya, sehingga kehadiran para penyusup dapat diketahui dengan cepat serta rahasia komunikasi tetap terjaga.

Karena bahasa ini sangat bebas dan longgar aturannya maka kemungkinan pengembangannya sangat luas untuk itu perlu disepakati beberapa istilah penting dikalangan pejuang. Kesepakatan istilah ini diperlukan juga karena banyak kata penting sulit untuk dibaca terbalik sehingga harus dicari istilah dan padanan yang sesuai namun mudah diingat oleh para pelakunya. Contohnya kata 'Belanda' dalam bahasa Jawa disebut 'Londho' yang cukup sulit dibaca terbalik, maka dicari istilah padanannya yaitu 'Nolo'. Demikian juga dengan 'Polisi' bukan menjadi 'Isilop' namun cukup 'Silop'. Kemudian untuk 'mata-mata' bila dibaca terbalik menjadi 'atam'. Namun untuk menentukan bahwa yang dimaksud dalam istilah tersebut adalah antek Belanda maka ditambahi kata 'keat' dari asal kata 'taek' yang dalam bahasa jawa berarti kotoran. 'Keat Atam' atau kotoran mata dalam bahasa jawa disebut 'ketek' adalah sebutan yang pas untuk para penyusup ini.

Begitu juga dengan nama peralatan perang seperti senjata genggam karena sulit menemukan istilah yang pas maka dipakai kode samaran 'Benduk' dan untuk laras panjang (dowo = panjang dalam bahasa Jawa) disebut 'benduk owod' atau disingkat 'owod' saja. Sedangkan untuk menunjuk masyarakat suku / etnik tertentu disebut 'onet' untuk golongan Cina (asal kata 'cino' dalam bahasa Jawa), 'arudam' untuk madura, 'arab' menjadi 'bara' dan seterusnya. Sedang untuk menyebut diri seseorang digunakan 'uka' = aku, 'ayas' = saya, 'umak' = kamu, 'okir' = riko (kamu dalam bahasa madura).

Sedangkan untuk menyebutkan sesuatu yang baik / bagus digunakan istilah 'nez' dari asal kata bahasa arab 'zen'. Begitu pula dalam menyebut orang tua laki-laki (ayah, Bapak) orang arab biasa menyebut dengan 'abah' atau 'sebeh' yang kemudian menjadi 'ebes'. Istilah 'ebes' kemudian menjadi populer ditujukan sebagai gelar kehormatan tidak resmi kepada para komandan, pemimpin atau pembesar dan pemuka masyarakat yang dituakan oleh segenap masyarakat Malang sampai sekarang.

Namun boso walikan bukanlah bahasa sandi karena tetap menggunakan bahasa yang lazim digunakan, hanya cara membacanya yang diubah. Kata yang lazimnya dibaca dari kiri ke kanan dalam boso walikan dibaca dari kanan ke kiri. Bahasa yang bisa dibalik juga bisa berasal dari Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia. Karena itu pula, boso walikan selalu berkembang karena pasti banyak kata-kata yang bisa dibalik. Namun, tentu tidak semua kata bisa seenaknya dibalik karena hanya kata-kata yang umum saja yang biasanya dibaca secara terbalik. Sebagai contoh, kata "komputer" tidak pernah diucapkan sebagai retupmok karena akan sulit pengucapannya dan tidak lazim digunakan.

Suyudi Raharno pada September 1949 gugur disergap Belanda di suatu pagi buta dipinggiran wilayah dukuh Genukwatu (sekarang Purwantoro) walaupun keadaan pada saat itu sedang gencatan senjata. Seminggu sebelumnya salah seorang kawan akrabnya yang turut mencetuskan 'osob kera ngalam' yaitu Wasito juga gugur dalam pertempuran di Gandongan (Pandanwangi) sekarang. Saat ini keduanya telah disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Suropati

Sayangnya, semakin sedikit kaum muda Ngalam yang mempraktekkan penggunaan boso walikan sehari-hari. Bagaimanapun, boso walikan merupakan ciri khas budaya Malang yang perlu dilestarikan.


 CONTOH KOSAKATA  BAHASA MALANGAN


Panggilan sesama teman
Diambil belakang nama panggilan ( panggilan sehari-hari abjadnya dibaca dari belakang) misal: Pardi dipanggil Id, Udin dipanggil Nid, Suparno dipanggil On, samsul dipanggil Lus , Santoso dipanggil OS dan Bayu dipanggil Uyab, Amir dipanggil Rim dan lain sebagainya serta disesuaikan dengan kenyamanan pendengaran sehingga panggilan dapat diterima dengan yang punya nama/ agar tidak ada ketersinggungan

Angka 
1 – Utas           
2 – Aud             
3 – Agit                 
4 – papat         
5 – Omil              
6 – Enem          
7 – Ujut               
8 – Wolu              
9 – Ongos      
10 – Hulupes       
11 - Saleb      
20 - Aud Hulup  
30 – Agit Hulup    
50 – Tekes      
100 – Sutar    
150 – Sutar Tekes     
1000 – Ubir    
     
Kata :
A  
A – tambahan untuk penekanan kata       
Aud – dua       
Agit – tiga         
Adapes – sepeda
Ambèk – dengan, dan
Amrin – pacar, kekasih
Analèt - Celana
Aranjep - penjara
Arema – Arek Malang
Aranet - Tentara
Arodam – Madura       
Asaib – biasa 
Asrob – minum
Atrakaj – Jakarta          
Atrèt – mundur
Ayahab – Bahaya                 
Ayarabus –Surabaya
Ayas – saya

B
Balbalan – Sepak Bola
Balon – Pelacur
 
C
Cik – Ungkapan lebih, biar lebih  
Cikno – Biarkan          
 
D
Dhulin – permainan
Dhudhuk – Bukan
 
E.
Èbès – panggilan Orang Tua laki-laki
Èbès Kanal – Bapak
Èbès Nganal – Bapak  
Èbès kodew – Ibu
Éros - Sore
Éwéd – Sendiri
Éwédan – Sendirian 
Éwul - Lapar   
  
G
Gak main – tidak bagus
Genaro – Orang  
Genok  – tidak ada
Ganok – Tidak ada      

H
Halak - kalah
Halokes – sekolah
Hamur – rumah 
Hamur tikas - rumah sakit
 Hantum - Muntah 
Hèndeg - Besar
Helom – balik kerumah/pulang
Helob – boleh 
Hewod – bibir tebal 
Holopes – sepuluh 
Hulupes – sepuluh

I
Ibar – kawin, nikah  
Ibab - Babi
Idad – Jadi       
Idrek – pekerjaan
Iko – itu (jarak jauh)
Ilep – alat kelamin laki-laki
Imblak – baju
Ingeb – Malam
Ipok – Kopi                
Irub – Belakang    
Isak - Beri
Isaki - diberi
Itor - roti                      
Itreng – mengerti, paham

J 
Jancik – makian halus
Jancuk – makian kasar
Ja’ik – penekanan kata-kata
Jès – panggilan keakraban
 
K
Kaceb - Becak  
Kadit – tidak
Kadit enès - Sombong, gaya  
Kampès – celana dalam  
Kana – anak
Kanè - Enak
Kanyab – banyak
Kanyab tulum – banyak omong  
Kawab - Bawa 
Kajur - Rujak 
Kelèm - terjaga, 
keleman - bersama teman tidak tidur
Kèat – Kotoran , tahi, makian  
Kendho – bodoh
Kèndep – pendek          
Kèr – Nak, anak-anak
Kèra – anak 
Kètam – mati     
Kèwut – tua
Kida – Adik                  
Kimpet – alat kelamin wanita  
Kipa - baik  
Kiwal – balik  
Kiwalan – walikan, terbalik  
Kodèw – perempuan  
Koen – kamu
Kolèm – Ikut     
Komès – Pantat besar   
Kubam – mabuk            
Kunam –  Burung, kelamin laki
Kusam – Masuk          

L  
Ladub - Berangkat  
Landas – sandal  
Latab – batal     
Lancap - tendang, mengayuh sepeda  
Lanek - Kenal   
Lawèt - Dijual  
Lecep – pecel  
Lèges, Lègo - Jual
Lesek - Capai, untuk orang - menyebalkan   
Leket - pegang
Lékés – Kaki                
Libom – mobil  
Licek – kecil
Lokop – Pukul    
Lotob - Botol
           
M  
Main – becus, bermain  
Menclek – miring   
Meleg - Mau           
Mengong – gila
 
N  
Nakam – makan
Naskim – Makan           
Nawak – kawan
Nawak Letek - Teman Dekat  
Nayamul – lumayan    
Nangkus - segan  
Najat - Jajanan, makanan ringan  
Nema - Ngamen     
Ngalam – Malang  
Ngalup - pulang  
Nganal – laki-laki  
Nganem – menang   
Ngatu - Hutang  
Ngayambes – sembahyang, sholat  
Ngentit – mencuri 
Ngenem - Diam tidak  bicara         
Ngetem – hamil
Ngokob – Pantat 
Ngilam - Pencuri        
Ngingub – bingung
Ngipok – Minum Kopi  
Niam - Main  
Niwak – Kawin
Nolab – pelacur

O  
Oges – nasi
Ojir – uang  
Ojob – suami/istri, pacar  
Ojrit – iya
Oker - Rokok  
Oket - Datang  
Omil – lima        
Onèt – Cina
Ongis - Singo  
Orip – berapa  
Oskab – bakso  
Osob – bahasa  
Osob kiwalan – bahasa terbalik  
Osi – bisa  
Otom – Mata
Otos – soto
Oyi – ya
Owik – Kiri Owod - panjang                 
 
P
Plembungan – balon tiup
Prei – Libur, tidak mau
 
R  
Rasap - Pasar  
Ratig - Gitar  
Raulek - Keluar  
Rayab - Bayar  
Rayub - selesai  
Rayup - terjual, laku
Raijo – uang
Reneb – Benar  
Rotom - Motor
Rudit – tidur   
Regeg - Bertengkar   
 
S
Sam – Abang
Saleg – Gelas   
Sareb - beras   
Sèdeb – monyet
Silup – polisi
Sikim – Pisau     
Sinam – manis (untuk menyebut gadis cantik)
Soak – baju Kaos
   

T
Tahès – sehat  
Takis - Ambil  
Tail – lihat    
Tèncrèm - Diare  
Tèngès - Buang air besar
Tènyom – monyet  
Tidem - kikir/pelit        
Tilep – Curi, bisa juga Kikir      
Tèwur – rumit
Tèlès - Dubur

U  
Ubab –  Pembantu rumah tangga  
Ubir – Ribu  
Ublem – masuk  
Udad - Dadu  
Uhat - tahu  
Uklam – Jalan  
Uklam-Uklam – jalan-jalan  
Ukut – Beli  
Umak – Kamu  
Unyap – Punya
Utab – Batu
Utapes – Sepatu                        
Utem – Keluar
Uyap – sudah terjual    

W  
Wancik - Umpat  
Wanyik – kagum, untuk orang Dia
Wahdoh – Terlanjur terjadi

Sumber :

1 komentar: