Tampilkan postingan dengan label huruf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label huruf. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

AKSARA


AKSARA (Update 08-08-2026)

Aksara adalah salah satu jejak paling nyata dari perjalanan pengetahuan manusia. Sebelum informasi dapat disimpan dalam komputer, sebelum buku dicetak secara massal, bahkan sebelum sebagian besar pengetahuan memiliki bentuk digital, manusia telah mencari cara untuk membuat bahasa dan pikirannya dapat bertahan melampaui ingatan. Salah satu jawabannya adalah tulisan. Dan di dalam dunia tulisan, aksara menjadi salah satu bentuk terpenting dari ingatan manusia.

Aksara dan Bahasa

Aksara dan bahasa memiliki hubungan yang sangat erat, tetapi keduanya bukanlah hal yang sama. Bahasa hidup di dalam penutur dan masyarakatnya. Aksara memberikan salah satu cara untuk merepresentasikan bahasa dalam bentuk visual. Satu bahasa dapat ditulis menggunakan lebih dari satu aksara. Sebaliknya, satu aksara dapat digunakan untuk menuliskan beberapa bahasa. Karena itu, ketika mempelajari aksara, kita perlu membedakan antara bahasa yang ditulis dan sistem tulisan yang digunakan untuk menuliskannya. Perbedaan sederhana ini sangat penting dalam memahami sejarah tulisan.

Aksara sebagai Jejak Sejarah

Setiap aksara memiliki perjalanan. Bentuk huruf dapat berubah. Cara menulis dapat berubah. Arah tulisan dapat berubah. Nilai bunyi dapat berubah. Nama huruf dapat berubah. Bahkan fungsi sebuah aksara dalam masyarakat dapat berubah. Sebuah sistem tulisan yang dahulu digunakan untuk mencatat administrasi, sastra, hukum, keagamaan, atau perdagangan dapat mengalami perubahan fungsi ketika masyarakat dan kebutuhannya berubah. Karena itu, aksara tidak dapat dipisahkan dari sejarah manusia yang menggunakannya. Mempelajari bentuk sebuah huruf saja belum cukup. 

Kita juga perlu bertanya: Siapa yang menggunakannya? Kapan digunakan? Di mana digunakan? Bahasa apa yang ditulis dengannya? Untuk tujuan apa? Bagaimana bentuknya berubah dari waktu ke waktu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengubah aksara dari sekadar kumpulan simbol menjadi objek sejarah.

Aksara Nusantara

Nusantara memiliki tradisi tulisan yang sangat beragam. Berbagai sistem tulisan pernah digunakan di wilayah kepulauan ini dan berkembang dalam lingkungan bahasa, kebudayaan, kerajaan, perdagangan, agama, serta masyarakat yang berbeda. Jejak tersebut dapat ditemukan dalam berbagai bentuk: prasasti, manuskrip, dokumen, naskah sastra, catatan administratif, artefak, dan berbagai peninggalan tertulis lainnya.

Tradisi aksara Nusantara juga tidak berhenti pada satu bentuk tertentu. Aksara mengalami perubahan, adaptasi, penyebaran, dan perkembangan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang menggunakannya. Karena itu, mempelajari aksara Nusantara berarti mempelajari sebuah jaringan sejarah yang jauh lebih luas daripada sekadar menghafal bentuk huruf.

Dari Batu ke Layar

Perjalanan aksara adalah perjalanan media. Tulisan dapat ditemukan pada batu, logam, kayu, daun, kulit, kain, kertas, dan berbagai bahan lainnya. Kemudian teknologi percetakan mengubah cara teks diproduksi dan disebarkan. Pada zaman modern, aksara memasuki ruang digital. Huruf yang dahulu dipahat atau ditulis dengan tangan kini dapat disimpan sebagai data, dikirim melalui jaringan, ditampilkan pada layar, dan diproses oleh komputer. Perubahan media ini membawa persoalan baru. Bagaimana sebuah aksara direpresentasikan secara digital? Bagaimana karakter yang berbeda dapat dibedakan oleh komputer? Bagaimana teks dapat dipertukarkan antarperangkat? Bagaimana aksara yang tidak lagi digunakan secara luas dapat didokumentasikan dan dilestarikan dalam bentuk digital? Pertanyaan tersebut membawa kajian aksara ke wilayah teknologi.

Aksara dan Unicode

Digitalisasi aksara memperlihatkan bahwa tulisan bukan hanya persoalan bentuk visual. Sebuah karakter harus memiliki representasi yang dapat dipahami oleh sistem komputer. Di sinilah standar seperti Unicode menjadi penting. Unicode menyediakan kerangka untuk merepresentasikan berbagai karakter dan sistem tulisan dalam lingkungan digital. Dengan demikian, sebuah aksara dapat bergerak dari halaman manuskrip menuju komputer tanpa harus kehilangan identitasnya sebagai sistem tulisan. Namun digitalisasi bukan berarti seluruh persoalan telah selesai. Representasi karakter, bentuk glyph, font, tata letak, arah tulisan, pemrosesan teks, pencarian, pengurutan, dan kompatibilitas perangkat tetap menjadi persoalan teknis yang perlu diperhatikan. Aksara dengan demikian berada di titik pertemuan antara linguistik, sejarah, desain, komputasi, dan pelestarian kebudayaan.

Bentuk dan Bunyi

Salah satu hal yang menarik dalam mempelajari aksara adalah hubungan antara bentuk visual dan bunyi bahasa. Tidak semua sistem tulisan bekerja dengan prinsip yang sama. Ada sistem yang terutama merepresentasikan konsonan. Ada yang menggunakan kombinasi konsonan dan vokal. Ada yang menggunakan simbol untuk suku kata. Ada yang menggunakan karakter yang berkaitan dengan unit makna. Ada pula sistem tulisan yang menggunakan kombinasi berbagai prinsip. Karena itu, mempelajari aksara bukan hanya mempelajari "cara membaca huruf". Kita juga perlu memahami logika sistem tulisannya. Bagaimana sebuah karakter dibentuk? Unit bahasa apa yang direpresentasikan? Bagaimana vokal ditandai? Bagaimana konsonan digabungkan? Bagaimana kata dipisahkan? Bagaimana tanda baca digunakan? Bagaimana teks ditata? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu kita memahami aksara sebagai sebuah sistem.

Aksara sebagai Warisan

Aksara merupakan bagian dari warisan budaya. Ketika sebuah aksara semakin jarang digunakan, yang berpotensi hilang bukan hanya bentuk hurufnya. Yang dapat ikut hilang adalah kemampuan untuk membaca dokumen, memahami manuskrip, mengakses karya sastra, mengenali prasasti, dan memahami bagian tertentu dari sejarah masyarakat yang menggunakan aksara tersebut. Karena itu, dokumentasi menjadi penting. Digitalisasi dapat membantu. Pendidikan dapat membantu. Penelitian dapat membantu. Teknologi dapat membantu. Namun pelestarian aksara pada akhirnya juga membutuhkan manusia yang mampu membaca, memahami, mengajarkan, dan menggunakannya.

Aksara dan Pengetahuan

Tulisan memungkinkan pengetahuan melampaui batas kehidupan seorang individu. Seseorang dapat menulis sesuatu hari ini dan orang lain dapat membacanya ratusan tahun kemudian. Tentu saja, teks dapat rusak. Bentuk huruf dapat berubah. Bahasa dapat mengalami perubahan. Makna dapat menjadi tidak jelas. Namun selama jejak tulisan masih dapat dibaca dan ditafsirkan, terdapat kemungkinan untuk membuka kembali sebagian pengetahuan yang pernah dimiliki manusia pada masa lalu. Karena itu, aksara bukan hanya alat untuk menulis. Aksara adalah salah satu mekanisme manusia untuk melawan keterbatasan ingatan.

Eksplorasi Aksara

Gensbeaux memandang aksara sebagai bidang yang dapat dipelajari dari berbagai arah. Dari sejarah. Dari linguistik. Dari paleografi. Dari epigrafi. Dari filologi. Dari kebudayaan. Dari tipografi. Dari desain. Dari Unicode. Dari pemrograman. Dan dari teknologi digital. Sebuah aksara dapat dipelajari sebagai bentuk visual, tetapi juga sebagai sistem yang hidup di dalam masyarakat. 

Karena itu, eksplorasi aksara di Gensbeaux tidak berhenti pada pertanyaan: 

"Bagaimana bentuk huruf ini?"

Pertanyaan yang lebih jauh adalah: 

"Mengapa bentuknya demikian?" "Dari mana ia berasal?"

"Bahasa apa yang ditulis dengannya?"

"Bagaimana ia berubah?"

"Siapa yang menggunakannya?"

"Apa yang dapat kita pelajari darinya?"

Dan pada zaman digital: "Bagaimana kita memastikan bahwa aksara tersebut tetap dapat dibaca oleh manusia dan mesin?"


Prinsip

Aksara bukan sekadar gambar huruf. Aksara adalah teknologi manusia untuk menyimpan bahasa, pengetahuan, dan ingatan melampaui waktu. Setiap karakter membawa bentuk. Setiap tulisan membawa bahasa. Setiap naskah membawa sejarah. Dan di balik setiap aksara terdapat manusia yang pernah menggunakannya untuk meninggalkan jejak kepada generasi setelahnya.

꧁ꦄꦣ꧀ꦩꦶꦤ꧀ꦒꦼꦤ꧀ꦱ꧀ꦧꦼꦎꦴꦏ꧀ꦱ꧀꧂

Minggu, 28 Juni 2015

Sejarah Singkat Alfabet

Bangsa Semit merupakan sebuah bangsa yang sudah memiliki peradaban maju beserta dengan sistem tulisnya yang praktis jauh sebelum tarikh masehi mulai dihitung. Hal yang menarik adalah, merekalah yang menemukan abjad, dan menurunkan sistem penulisan yang paling familiar bagi kita semua, yaitu Alfabet LATIN.

Di masa lalu, mereka menulis dengan "menggambar" / huruf gambar (pictograph). Sampai seorang juru tulis menemukan bahwa sebuah bahasa dapat dituliskan dengan sangat sederhana, yaitu dengan mengambil bunyi konsonan awal dari sebuah tulisan untuk mewakili bunyinya. 



Huruf Pictograph Bangsa Semit yang dipilih untuk mewakili satu bunyi konsonan dalam Abjad Bangsa Semit.




Dalam postingan kali ini tidak akan dibahas banyak, blogger hanya ingin melampirkan berbagai gambar yang berhubungan dengan tulisan Bangsa Semit ini. Yang membuat blogger tertarik adalah, kenyataan bahwa Aksara Kawi juga mengalami banyak variasi bentuk di setiap generasi, demikian juga Abjad Bangsa Semit, juga mengalami perubahan bentuk dalam kelompok yang berbeda. 




Proto-Sinaitic / Proto-Canaanite





Phoenician




Neo-Phunic




Pahlavi



Psalter Pahlavi



Book Pahlavi



 
Early Aramaic / Paleo-Hebrew



Imperial Aramaic




Square Script for Aramaic

 
(yang menarik adalah, bentuk ini yang dipakai saat ini dalam Bahasa Hebrew / Ibrani saat ini)




Nabatean
 


Gagasan tentang abjad ini bahkan sampai barat yaitu ke Yunani melalui orang Phoenician, di Yunani mereka menyesuaikan dengan Bahasa mereka sehingga beberapa huruf menjadi Vokal (huruf hidup). Di Yunani inilah abjad bangsa semit berevolusi dari sebuah sistem penulisan yang hanya terdiri dari konsonan semua (Abjad) menjadi sebuah sistem penulisan yang memiliki konsonan dan vokal (Alfabet) dan jadilah Alfabet Yunani.

Orang Etruscan mengadaptasi Alfabet Yunani untuk mereka sendiri kemudian orang Latin juga menciptakan variasi dari Alfabet Etruscan dan jadilah Huruf Latin. 

Dalam perkembangannya Huruf latin mengalami perubahan bentuk sehingga menghasilkan huruf kecil dan huruf besar. Huruf ini berkembang pesat dan digunakan oleh banyak bangsa di dunia. Beberapa bangsa yang menggunakan huruf latin banyak memiliki ejaan pembacaan yang berbeda-beda atas Huruf Latin, bahkan memiliki Huruf Latin dengan berbagai tanda aksen untuk menuliskan ucapan bahasa-bahasa lain yang tidak terwakili oleh Huruf Latin.

Seorang Missionary dari Byzantium bersama saudaranya memodifikasi Huruf Latin untuk menciptakan Huruf Cyrillic (Rusia). 

Di Timur Tengah sendiri, Huruf Semit juga telah berkembang dalam komunitas peradaban Bangsa Semit yang berbeda. Beberapa mungkin sudah punah, namun beberapa tetap bertahan sebagai sebuah sistem penulisan yang dipakai luas di kawasan Timur Tengah, terutama Abjad Arab.






Di masa lalu, dalam Bahasa Arab, satu huruf mewakili beberapa ucapan vokal yang berbeda. Dan dalam sistem penulisan inilah Kitab Suci Al-Qur'an pertama kali dituliskan. Bisa dipahami apabila dulu pernah muncul pembacaan yang berbeda. 

Dalam perkembangannya Para Ulama menambahkan tanda titik dan tanda ucapan vokal dalam naskah Al-Qur'an agar orang yang belum fasih berbahasa Arab dapat membacanya. Berkat jasa merekalah Huruf Arab menjadi lebih mudah dipelajari pada saat ini. 








Huruf Arab berdampingan dengan Huruf Hebrew / Ibrani, Etiopia dan Syriac, merupakan huruf semitik yang pada saat ini keeksisannya digunakannya merupakan yang paling luas, dan Huruf Arab adalah yang paling luas pemakaiannya. Huruf Arab tidak hanya dipakai untuk bahasa Arab, namun juga bahasa-bahasa lain di kawasan timur tengah.

Huruf Syriac berkembang menjadi tiga cabang utama yaitu : Estrangela Edessa, Serta Jerusalem dan Madnhaya.


Sama seperti latin, huruf arab juga mendapatkan tambahan modifikasi saat digunakan dalam bahasa lain yang memiliki pengucapan yang berbeda. Misalnya untuk bahasa Farsi / Persia berikut ini :


Tidak hanya sampai disitu, Huruf Arab juga telah sampai di Asia Tenggara dan berkembang menjadi Huruf Pegon dan Huruf Jawi. 

Sedangkan Abjad Hebrew / Ibrani mengalami juga perkembangan sama seperti Abjad Arab yaitu munculnya tanda ucapan vokal untuk mempermudah pembacaan terutama untuk mereka yang tidak fasih berbahasa Hebrew / Ibrani. Beberapa komunitas mengembangkan model sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri. Bahkan abjad Ibrani yang dipakai orang Samaria di Kota Nablus juga memiliki bentuk dan tanda ucapan vokal yang berbeda dari Abjad Ibrani standar.

Jika dipersingkat dengan sebuah tabel akan membentuk tabel seperti ini :





Mata rantai pergerakan tulisan ternyata tidak hanya sampai disini saja, Huruf Aramaic berkembang juga menjadi Huruf Brahmi, yang bukan lagi berupa Abjad namun berupa sistem tulis Agugida atau disebut juga alfasilabis, adalah aksara segmental yang didasarkan pada konsonan dengan notasi vokal yang diwajibkan tapi bersifat sekunder.


Brāhmī consonants

Aksara Brahmi ini mengilhami terbentuknya aksara-aksara India, termasuk Pallawa yang pernah juga dipakai leluhur kita di nusantara, contoh nyata penggunaannya adalah dalam Prasasti Ciaruteun, di kemudian hari aksara ini menurunkan Aksara Kawi, yang dalam perkembangannya kemudian membentuk aksara-aksara daerah di nusantara seperti : Jawa, Bali, Sunda, Batak, Kaganga, Lontara, dan bahkan di jaman modern ini telah membentuk sebuah huruf alternatif yaitu Aksara Nusantara.


Sumber :
wikipedia.com
omniglot.com
search.google.com

Selasa, 12 Mei 2015

Huruf Korea

Ingat serial drama Korea.... inget tulisan mereka, ternyata tulisan Korea tidak serumit dan sesulit tulisan Cina dan Jepang... tulisan Korea disebut dengan Hangeul (한글; dibaca [ˈhɑːŋɡʊl].

Hangeul adalah alfabet yang digunakan untuk menulis Bahasa Korea. Hangeul diciptakan oleh Raja Sejong yang Agung (1397-1450) pada tahun 1443 masa Dinasti Joseon. Meskipun tulisan Hangeul terlihat seperti tulisan ideografik (tulisan dalam bentuk 'simbol' seperti aksara Tionghoa), Hangeul sebenarnya merupakan abjad fonetik atau alfabet, karena setiap hurufnya merupakan lambang vokal dan konsonan yang berbeda. Alfabet Hangeul terdiri dari 24 huruf (jamo)— 14 huruf mati (konsonan) dan 10 huruf hidup (vokal). Sebenarnya Hangeul masih mempunyai 3 konsonan dan 1 buah huruf vokal, namun dihilangkan. Selain untuk menuliskan bahasa Korea, Hangeul juga dipakai untuk bahasa suku Cia-Cia, di Sulawesi Tenggara, Indonesia.

Dalam sebagian besar sejarahnya, rakyat Korea menulis dengan aksara Tionghoa (Hanja). Karena bahasa tutur kedua bangsa ini berasal dari keluarga yang berbeda, bahasa Korea tidak bisa secara tepat diungkapkan dalam aksara Tionghoa. Dalam bahasa Tionghoa, kalimat ditandai dengan partikel, sementara dalam bahasa Korea, akhiran digunakan untuk menambah atau memodifikasi makna. Walau tidak nyaman, kaum bangsawan Korea (yangban) tetap mendukung penggunaan hanja secara teguh.

Raja Sejong adalah seorang pemimpin sekaligus ilmuwan, dan pelopor budaya. Melalui upaya keras bertahun-tahun, ia meneliti unit dasar Bahasa Korea menggunakan kemampuannya sendiri tentang kebahasaan dan akhirnya berhasil menuangkannya dalam bentuk aksara, Hunminjeongeum.

Tulisan di Sejong Sillok, volume Joseon Wangjo Sillok (Babad Joseon) tanggal 30 Desember tahun ke-25 masa Sejong bertahta, berbunyi:


"Bulan ini, Raja telah menciptakan 28 aksara Onmun (aksara tutur) secara pribadi...Walau sederhana dan ringkas, aksara ini mampu menghasilkan variasi-variasi tak terhingga dan dinamakan Hunmin Jeongeum."

Berdasarkan "Penjelasan dan Contoh-contoh Hunmin Jeongeum" (1446): lambang konsonan dasar terbentuk secara sistematis berdasarkan organ mulut manusia saat mengucapkan beberapa jenis suara, sementara konsonan lain dibentuk dengan menambahkan guratan ke 5 bentuk dasar.

Berikut adalah huruf-huruf abjad bahasa Korea beserta artinya sesuai dengan Alphabet Latin (Inggris):

Consonants Vokal
ㄱ = g ㅏ = a
ㄴ = n ㅑ = ya
ㄷ = d ㅓ = e
ㄹ = l, r (ㄹ adalah suara di suatu tempat antara l dan r) ㅕ = yeo
ㅁ = m ㅗ = o
ㅂ = b ㅛ = yo
ㅅ = s ㅜ = u
ㅇ = “tidak ada suara” bila digunakan sebagai konsonan pertama, “ng” bila digunakan sebagai konsonan akhir. ㅠ = yu
ㅈ = j ㅡ = eu
ㅊ = ch ㅣ = i
ㅋ = k  
ㅌ = t  
ㅍ = p  
ㅎ = h  

Selain Huruf-Huruf Korea diatas , ada 5 konsonan ganda dan 11 vokal ganda.

Konsonan ganda Vokal
ㄲ = gg ㅐ = ae
ㄸ = dd ㅒ = Yae (jarang digunakan)
ㅃ = bb ㅔ = e
ㅆ = ss ㅖ = ye
ㅉ = jj ㅘ = wa
  ㅙ = wae
  ㅚ = oe
  ㅝ = wo
  ㅞ = kita (jarang digunakan)
  ㅟ = wi
  ㅢ = ui

Selain huruf-huruf di atas, ada juga tambahan 11 konsonan ganda akhir, sebagai berikut:
  • ㄳ = ㄱ
  • ㄵ = ㄴ
  • ㄶ = ㄴ
  • ㄺ = ㄱ
  • ㄻ = ㅁ
  • ㄼ = ㄹ
  • ㄽ = ㄹ
  • ㄾ = ㄹ
  • ㄿ = ㅂ
  • ㅀ = ㄹ
  • ㅄ = ㅂ
Sedangkan untuk tata cara penulisannya, huruf-huruf tersebut dikelompokkan ke dalam blok suku kata yang mengandung konsonan awal (yang mungkin diam atau ganda), satu atau dua huruf hidup (di bawah atau ke kanan), dan kadang-kadang konsonan akhir (bawah).

Konsonan :

Korean consonants


Korean vowels

Contoh Teks Hangeul
모든 인간은 태어날 때부터 자유로우며 그 존엄과 권리에 있어 동등하다. 인간은 천부적으로 이성과 양심을 부여받았으며 서로 형제애의 정신으로 행동하여야 한다.

Contoh Teks Hangeul + Hanja

 Sample text in Korean (hangeul and hanja)

Transliteration

Modeun Ingan-eun Tae-eonal ttaebuteo Jayuroumyeo Geu Jon-eomgwa Gwonrie Iss-eo Dongdeunghada. Ingan-eun Cheonbujeog-euro Iseong-gwa Yangsim-eul Bu-yeobad-ass-eumyeo Seoro Hyungje-ae-ui Jeongsin-euro Haengdongha-yeo-yahanda.

Sumber :
bahasa-korea.com
wikipedia.com
omniglot.com

Huruf Jepang

Blogger cukup suka membaca komik, meskipun tidak semua tipe komik, dari situ muncul keinginan pribadi blogger untuk mencopas kanan dan kiri tentang sebuah huruf yang cukup unik dari sebuah bangsa dimana kebanyakan komik-komik yang blogger suka baca... yeahhh Jepang hahahaha, Blogger tidak akan membahas secara detil tentang huruf ini karena memang tidak menguasai hahahaa, namun Blogger akan memberikan daftar yang akan cukup menolong kita semua memahami secara awal tentang huruf Jepang...

Tulisan Bahasa Jepang terdiri dari : 
Hiragana, Katakana, Kanji, dan Roomaji (huruf Latin).

==============================

HIRAGANA 平仮名 

Hiragana dipakai untuk menulis kata-kata yang berasal dari bahasa Jepang asli, dan dipakai untuk menggantikan kata-kata dari tulisan Kanji. Sebelum perang dunia kedua, Hiragana hanya dipakai oleh wanita.

Perhatikan :
Jangan buka mulut terlalu lebar
Tidak ada huruf U murni. U dibaca dengan suara perpaduan antara u dan ue
Perhatikan konsonan N adalah satu suku kata.

Tabel Hiragana

DAKUON 濁音  (tanda " ), HANDAKUON 半濁音 (tanda O)

YOO-ON よう音 Suara gabungan


==============================

KATAKANA 片仮名 

Katakana digunakan untuk menulis kata-kata dalam bahasa asing, seperti nama negara (アメリカ Amerika), nama orang asing (アントニー Anthony), dan kata-kata serapan dari bahasa asing (テーブル teeburu 'table')

Katakana juga digunakan untuk menulis kata yang ingin ditekankan dalam suatu kalimat.

Contoh :
コレがほしいです。
Kore ga hoshii desu. 
(Mau yang INI)

Tabel KATAKANA

DAKUON 濁音 (tanda "), HANDAKUON 半濁音 (tanda o)

YOO-ON よう音 Suara gabungan


==============================

KANJI 漢字 

Kanji adalah tulisan yang berasal dari huruf Tionghoa. Tulisan ini telah dibatasi pemakaiannya. Sekarang yang banyak dipakai hanya 1.850 buah, yang disebut TOOYOO KANJI

Ada dua macam cara baca tulisan Kanji yaitu Kunyomi 訓読み dan Onyomi 音読み.

Kunyomi adalah cara baca Jepang, Onyomi adalah cara baca serapan bahasa Tionghoa. Zaman dulu, Pedagang Tionghoa ramai masuk ke Jepang. Dalam perkembangannya, Jepang yang tidak memiliki huruf tulisan baku, mengadaptasi sistem penulisan Tionghoa. Mereka mengambil karakter Kanji untuk menjadi bahasa mereka dan juga cara bacanya (Onyomi), dan digunakan juga untuk bahasa asli mereka (Kunyomi)

Contoh : 
Kanji 水 (air), yg dalam bahasa Tionghoa dibaca 'Shui'.  Dalam Bahasa Jepang. Onyomi nya menjadi 'sui', sedangkan Kunyomi nya 'mizu'
Biasanya, cara baca onyomi digunakan jika beberapa Kanji bergabung membentuk satu kata; seperti 水曜日 Suiyōbi
Cara baca kunyomi biasanya digunakan untuk Kanji yang berdiri sendiri. Umumnya diikuti dengan Okurigana (hiragana yg mengikuti huruf Kanji).  Contoh : 美しい Utsukushii

Rangkuman :
  • Kunyomi: Pengucapan Kanji dari bahasa Jepang asli.
  • Onyomi: Pengucapan Kanji serapan dari bahasa Tionghoa.
  • Okurigana: Hiragana pengikut kanji.
Kanji 美 :  Kunyomi : utsukushii
Onyomi : bi
美しい utsukushii= cantik,
美容院 biyōin = klinik kecantikan
Untuk lebih detilnya pembaca bisa kursus sendiri ya hehehe

==============================

Ada juga yang disebut dengan Furigana, furigana adalah teks kecil hiragana yang ada di atas atau di bawah huruf kanji.

==============================

Contoh Teks Hiragana

Sample text in Hiragana

Contoh Teks Katakana

Sample text in Katakana

 

Standar Teks Jepang dengan Furigana
 Japanese text with furigana (horizontal)


Standar Teks Jepang (Tanpa Furigana)

すべての人間は、生まれながらにして自由であり、かつ、尊厳と権利と について平等である。人間は、理性と良心とを授けられており、互いに同 胞の精神をもって行動しなければならない。

 

Transliterasi (rōmaji) 

Subete no ningen wa, umare nagara ni shite jiyū de ari, katsu, songen to kenri to ni tsuite byōdō de aru. Ningen wa, risei to ryōshin to o sazukerareteari, tagai ni dōhō no seishin o motte kōdōshinakerebanaranai.


Terjemahan
All human beings are born free and equal in dignity and rights. They are endowed with reason and conscience and should act towards one another in a spirit of brotherhood.
(Article 1 of the Universal Declaration of Human Rights)

==============================

Sumber :
omniglot.com
kursus-jepang-evergreen.com

Minggu, 03 Mei 2015

Huruf Atlantis

Atlantean

The Atlantean language was created for the film Atlantis: The Lost Empire by Marc Okrand, who also created the Klingon and Vulcan languages for the Star Trek films and television shows. Okrand worked with John Emerson, a designer at Disney, to produce an alphabet for the language. The language is spoken and written by the people of Atlantis in the film and is integral to the plot. 

Okrand based the Atlantean language on a hypothetical reconstruction of the language spoken by the early Indo-Europeans using sounds common to modern Indo-European languages and some not found in any of them. He wanted it to sound like a real human language, to be easy to speak and to be unlike English.


Notable features

 
Written in boustrophedon style (in horizontal running alternately from right to left and left to right)
 

Atlantean alphabet and numerals


Sample text (English in the Atlantean alphabet)


Transliteration:

All human beings are born free and equal in dignity and rights. They are endowed with reason and conscience and should act towards one another in a spirit of brotherhood. (Article 1 of the Universal Declaration of Human Rights)

Sumber :
omniglot.com